YOGYAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menyoroti ketimpangan distribusi program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang masih timpang antara sekolah umum dan institusi pendidikan berbasis agama. Ia menegaskan perlunya percepatan akses bagi madrasah dan pondok pesantren agar mendapatkan hak yang setara.
Zulhas mengungkapkan bahwa saat ini jangkauan program MBG di sekolah umum telah melampaui angka 80 persen. Sebaliknya, distribusi untuk Madrasah Aliyah, Tsanawiyah, hingga pondok pesantren baru menyentuh kisaran 15 hingga 20 persen.
“Saya sedang berusaha keras agar sekolah berbasis agama, baik itu MAN, Tsanawiyah, maupun pondok pesantren, bisa lebih cepat mendapatkan program MBG ini,” ujar Zulhas saat melakukan kunjungan ke Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Yogyakarta, Kamis, 16 April 2026.
Menurut Zulhas, ketimpangan ini tidak boleh dibiarkan karena menyangkut keadilan bagi para siswa. Pemerintah berencana menghadirkan skema pelayanan khusus untuk memangkas hambatan birokrasi dan kendala logistik guna memastikan pemerataan distribusi.
Dalam kunjungan tersebut, Zulhas juga memantau langsung kualitas menu yang disajikan di MAN 1 Yogyakarta. Ia memastikan standar gizi yang diberikan telah mencakup kebutuhan serat, protein, dan karbohidrat yang lengkap bagi siswa.
Kepala MAN 1 Yogyakarta, Edy Triyanto, menjelaskan bahwa sebanyak 845 siswa di sekolahnya telah menerima manfaat program MBG sejak Oktober 2025. Ia menambahkan, perbedaan waktu penyaluran di tiap sekolah sangat bergantung pada kesiapan Satuan Pelayanan Pemakanan Gratis (SPPG) di wilayah masing-masing.
“Alhamdulillah, di sini sudah menerima sejak Oktober 2025. Untuk tingkat MTs baru dimulai Januari karena menyesuaikan kesiapan SPPG terdekat,” pungkas Edy.







