Emas

Harga Emas Diprediksi Makin Volatil Dipicu Harga Minyak dan The Fed

36
×

Harga Emas Diprediksi Makin Volatil Dipicu Harga Minyak dan The Fed

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan harga emas di pasar global yang menunjukkan tren penguatan dan volatilitas
Harga emas dunia diprediksi akan terus volatil akibat pengaruh harga minyak dan kebijakan The Fed.

JAKARTA – Harga emas spot mencatatkan penguatan signifikan sebesar 1,77% ke level US$ 4.314 per ons troi pada perdagangan Jumat (7/8/2026). Meski sempat menguat, pergerakan logam mulia ini diproyeksikan akan semakin volatil dalam beberapa bulan ke depan akibat ketidakpastian ekonomi global.

Faktor utama yang membayangi pasar emas saat ini adalah kombinasi antara lonjakan harga minyak dunia dan ekspektasi kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Ketidakpastian geopolitik yang memicu gangguan distribusi energi turut menjadi katalis yang memengaruhi sentimen investor secara luas.

Analyst PT Finex Bisnis Solusi Futures, Brahmantya Himawan, menyatakan bahwa harga minyak kini menjadi indikator kunci bagi arah inflasi global. Normalisasi distribusi energi yang berjalan lebih lambat dari perkiraan memicu kekhawatiran bahwa inflasi akan tetap persisten.

Data Trading Economics per Jumat (7/8/2026) menunjukkan harga minyak Brent berada di level US$ 81,83 per barel. Sementara itu, minyak mentah WTI diperdagangkan pada harga US$ 76,96 per barel.

Tingginya harga energi ini menciptakan tekanan inflasi yang memaksa pasar mempertimbangkan kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan oleh The Fed. Pelaku pasar kini mulai mengantisipasi kebijakan moneter yang lebih ketat pada pertemuan bulan September mendatang.

Probabilitas kenaikan suku bunga pada September saat ini diperkirakan berada di kisaran 60% hingga 65%. Sentimen ini muncul akibat kekhawatiran bahwa konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah akan terus menjaga harga energi tetap tinggi dan menghambat target penurunan inflasi.

Kondisi suku bunga yang tinggi cenderung menjadi sentimen negatif bagi emas karena aset ini tidak memberikan imbal hasil atau bunga. Investor umumnya akan beralih ke instrumen lain yang menawarkan imbal hasil lebih menarik saat suku bunga acuan mengalami kenaikan.

Namun, emas tetap memiliki ruang untuk menguat meski dengan laju yang lebih terbatas dibandingkan periode sebelumnya. Dinamika pasar emas ke depan akan sangat bergantung pada tarik-menarik antara risiko geopolitik dan respons kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat.

Hingga akhir tahun 2026, harga emas diprediksi akan bergerak dalam rentang US$ 4.000 hingga US$ 4.500 per ons troi. Faktor penentu utama tetap berada pada keberhasilan The Fed dalam mengendalikan inflasi di tengah guncangan harga energi global.

Sebelumnya, pasar sempat menanti arah kebijakan di bawah kepemimpinan Ketua Fed Kevin Warsh. Ketidakpastian mengenai arah suku bunga ini diperparah oleh data inflasi yang belum sepenuhnya mendingin, sehingga memicu perdebatan di antara para pembuat kebijakan.

Selain itu, stabilitas politik di Amerika Serikat turut menjadi sorotan setelah keputusan Mahkamah Agung yang membatasi wewenang presiden dalam memecat gubernur bank sentral. Keputusan ini mempertegas independensi The Fed dalam menentukan arah kebijakan moneter di tengah tekanan ekonomi yang kompleks.