Energi

Harga Minyak Dunia Turun Akibat Harapan Kesepakatan Selat Hormuz

24
×

Harga Minyak Dunia Turun Akibat Harapan Kesepakatan Selat Hormuz

Sebarkan artikel ini
Kilang minyak mentah beroperasi di tengah optimisme pasar terhadap pembukaan kembali Selat Hormuz.
Harga minyak dunia kembali turun akibat harapan tercapainya kesepakatan di Selat Hormuz.

LONDON – Harga minyak dunia kembali mencatatkan penurunan pada perdagangan Jumat (7/8/2026), dengan proyeksi pelemahan mingguan mencapai 9 persen. Tren negatif ini dipicu oleh meningkatnya optimisme pasar terhadap potensi kesepakatan sementara antara Iran dan negara-negara Teluk untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Minyak mentah Brent terpantau terkoreksi 75 sen atau 0,9 persen menjadi US$ 81,74 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah 66 sen atau 0,9 persen ke level US$ 76,63 per barel.

Penurunan harga ini terjadi selang sehari setelah lonjakan signifikan sebesar US$ 3 per barel. Kenaikan sebelumnya dipicu oleh kekhawatiran atas rancangan undang-undang Iran yang mengancam pelarangan akses bagi kapal Amerika Serikat dan Israel di Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan jalur krusial yang menopang sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) global. Gangguan di jalur ini pasca-pecahnya perang akhir Februari lalu telah menjadi faktor utama volatilitas harga energi dunia.

Saat ini, fokus pelaku pasar tertuju pada negosiasi pembukaan kembali jalur strategis tersebut. Langkah ini dipandang sebagai pintu masuk bagi perundingan diplomatik yang lebih luas untuk meredam konflik Iran.

Meski demikian, detail persyaratan kesepakatan masih belum dipublikasikan secara resmi. Analis menilai ketidakpastian mengenai syarat-syarat tersebut membuat risiko geopolitik tetap membayangi pasar.

Terdapat perbedaan posisi yang tajam terkait skema pungutan biaya bagi kapal yang melintas. Iran mengusulkan tarif 5 hingga 7 persen, sementara Oman mengajukan angka 3 persen.

Amerika Serikat secara tegas menolak skema pungutan tersebut dan menuntut akses bebas biaya. Para pelaku industri menilai implementasi skema ini akan terkendala oleh sanksi ekonomi AS serta regulasi asuransi internasional.

Analis SEB Research, Bjarne Schieldrop, menyatakan bahwa struktur kesepakatan saat ini memberikan ruang pengaruh yang terlalu besar bagi Iran. Kondisi ini diprediksi akan sulit diterima oleh pemerintahan Presiden AS Donald Trump.

Risiko keamanan di kawasan Timur Tengah juga masih dalam status siaga tinggi. Arab Saudi melaporkan potensi serangan terkoordinasi dari milisi Irak di utara dan kelompok Houthi di Yaman.

Laporan intelijen gabungan menyebutkan sasaran serangan mencakup infrastruktur energi, pelabuhan, hingga fasilitas sipil. Kelompok Houthi bahkan mengklaim telah melancarkan serangan rudal dan drone ke wilayah Yaman.

Sebagai respons, Arab Saudi, Pakistan, dan Turki telah menandatangani pakta pertahanan di Mekkah. Kerja sama ini bertujuan memperkuat koordinasi keamanan regional di tengah eskalasi yang terjadi.

Presiden AS Donald Trump menyatakan keyakinannya bahwa konflik akan segera berakhir. Namun, pasar masih menanti kepastian diplomatik yang nyata untuk menurunkan premi risiko pasokan minyak global.

Selain dinamika geopolitik, investor kini memantau rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat atau non-farm payrolls. Data tersebut menjadi indikator penting bagi kebijakan suku bunga Federal Reserve yang memengaruhi prospek permintaan energi dunia.