Tutup
EkonomiEnergiPerbankan

Eropa Godok Pajak Energi, Respons Konflik Timur Tengah

182
×

Eropa Godok Pajak Energi, Respons Konflik Timur Tengah

Sebarkan artikel ini
5-menteri-eropa-todong-pajak-keuntungan-perang-ke-perusahaan-energi
5 Menteri Eropa Todong Pajak Keuntungan Perang ke Perusahaan Energi

Jakarta – Lima negara anggota Uni Eropa (UE) mendesak pengenaan pajak windfall profit atau keuntungan tak terduga pada perusahaan energi. Desakan ini sebagai respons atas lonjakan harga bahan bakar akibat konflik di Timur Tengah.

Seruan ini tertuang dalam surat yang ditujukan kepada komisi Eropa.

Menteri keuangan dari Jerman, Italia, Spanyol, Portugal, dan Austria secara bersama-sama menyampaikan usulan tersebut.

Dalam surat tertanggal 3 April, mereka menyatakan langkah ini akan menunjukkan persatuan dan kemampuan UE untuk bertindak.

“Ini juga akan mengirimkan pesan yang jelas bahwa mereka yang meraup untung dari dampak perang harus memainkan peran mereka untuk meringankan beban masyarakat umum,” tulis para menteri tersebut.

Harga minyak dan gas melonjak sejak serangan AS-Israel ke Iran dimulai pada 28 Februari lalu.

Kondisi ini menciptakan guncangan harga serupa dengan krisis energi yang dialami Eropa setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.

Para menteri merujuk pada pajak darurat serupa yang diterapkan pada 2022 untuk mengatasi tingginya harga energi.

“Mengingat distorsi pasar dan kendala fiskal saat ini, Komisi Eropa harus segera mengembangkan instrumen kontribusi serupa di seluruh UE yang didasarkan pada landasan hukum yang kuat,” tulis mereka dalam surat kepada Komisaris Iklim UE Wopke Hoekstra.

Surat tersebut tidak merinci besaran pajak windfall yang diusulkan, atau perusahaan mana saja yang akan dikenakan pajak.

Uni Eropa juga tengah mempertimbangkan untuk menghidupkan kembali langkah-langkah krisis energi yang digunakan pada 2022.

Kebijakan tersebut mencakup batas harga gas, pajak atas keuntungan tak terduga perusahaan energi, dan target untuk menekan permintaan gas.

Ketergantungan Eropa pada bahan bakar impor membuat kawasan ini rentan terhadap dampak konflik Timur Tengah, terutama terkait harga energi global.

Harga gas Eropa telah naik lebih dari 70 persen sejak perang AS-Israel dengan Iran dimulai.

komisaris Energi UE Dan Jorgensen menyatakan kekhawatiran atas pasokan produk minyak sulingan Eropa dalam jangka pendek, seperti bahan bakar jet (avtur) dan diesel.