JAKARTA – Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kini diperdagangkan di bawah level US$ 100 per barel. Penurunan ini dipicu oleh sentimen positif terkait potensi kesepakatan gencatan senjata selama 60 hari antara Amerika Serikat dan Iran yang dinilai mampu meredakan ketegangan pasokan energi global.
Berdasarkan data Trading Economics pada Jumat (29/5/2026) pukul 11.07 WIB, harga minyak WTI tercatat berada di level US$ 88,02 per barel. Angka ini mencerminkan pelemahan signifikan sebesar 8,78% dalam kurun waktu sepekan terakhir.
Tren penurunan ini berpotensi berlanjut seiring dengan laporan mengenai upaya diplomatik antara AS dan Iran. Salah satu poin utama dalam pembahasan tersebut mencakup akses pelayaran tanpa hambatan di Selat Hormuz. Selain itu, Iran dikabarkan bersedia membersihkan ranjau di jalur distribusi vital tersebut dalam waktu 30 hari.
Prospek terbukanya kembali jalur distribusi energi global memicu optimisme pasar bahwa ancaman gangguan pasokan minyak dapat berkurang secara signifikan. Hal inilah yang kemudian menekan harga minyak mentah global ke level terendah dalam periode bulanan.
Dari sisi teknikal, pergerakan harga minyak mentah WTI saat ini masih menunjukkan tren *bearish*. Kendati demikian, indikator *Relative Strength Index* (RSI) mulai memberi sinyal adanya potensi *bullish divergence* saat harga mendekati area *demand* kuat di kisaran US$ 85,41 hingga US$ 83,21 per barel.
Dengan posisi tersebut, tekanan jual diperkirakan akan mulai terbatas di area *demand* tersebut. Kondisi ini membuka peluang bagi harga minyak untuk kembali melakukan *rebound* dan menguji level *resistance* di posisi US$ 92,49 per barel.







