JAKARTA – PT Pertamina New and Renewable Energy (NRE) mencatatkan akselerasi progresif dalam ekspansi bisnis energi terbarukan di Filipina melalui kemitraan strategis dengan Citicore Renewable Energy Corporation (CREC). Kapasitas proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang dikembangkan bersama perusahaan tersebut diproyeksikan mencapai 2,4 gigawatt (GW) pada akhir 2026.
CEO Pertamina NRE, John Anis, menyatakan bahwa hingga saat ini kapasitas PLTS yang telah dikembangkan bersama CREC telah menyentuh angka 1,2 GW. Penambahan kapasitas sebesar 1,2 GW direncanakan rampung dalam kurun waktu enam bulan ke depan untuk mencapai target total tersebut.
Pernyataan ini disampaikan di sela-sela perhelatan Indonesia Solar Summit 2026, Selasa (14/7). Ekspansi ini merupakan bagian dari investasi berkelanjutan Pertamina NRE setelah melakukan akuisisi 20 persen saham CREC senilai US$120 juta pada Juni 2025.
Keberhasilan proyek ini tidak lepas dari partisipasi CREC dalam skema Green Energy Auction Program (GEAP). Program yang diinisiasi oleh Departemen Energi Filipina tersebut terbukti efektif dalam memacu keterlibatan sektor swasta untuk mempercepat pembangunan pembangkit listrik ramah lingkungan.
Sejak menerima suntikan modal dari Pertamina NRE, CREC menetapkan target ambisius yakni penambahan kapasitas sebesar 1 GW setiap tahun selama lima tahun ke depan. Tren realisasi di lapangan saat ini menunjukkan bahwa progres pembangunan melampaui target yang telah ditetapkan sebelumnya.
John Anis menjelaskan bahwa iklim bisnis energi surya di Filipina saat ini lebih kondusif dibandingkan dengan pasar domestik. Hal ini didorong oleh terbentuknya pasar yang matang serta tarif listrik tenaga surya yang sudah kompetitif.
Kondisi tersebut memungkinkan pembangunan proyek dalam skala besar dilakukan secara lebih efisien di negara tersebut. Sementara itu, untuk pasar Indonesia, pihak Pertamina NRE mengaku masih mengambil posisi menunggu pertumbuhan pasar yang lebih stabil.
Meski telah memiliki fasilitas perakitan panel surya di Cikarang, Jawa Barat, operasional perusahaan masih menyesuaikan dengan dinamika permintaan domestik. Pertamina NRE menegaskan komitmennya untuk mendukung rencana pemerintah terkait pengembangan 100 GW PLTS nasional.
Namun, pelaku industri saat ini masih menantikan kepastian hukum dan detail rencana implementasi dari program tersebut. Insentif regulasi dinilai menjadi instrumen krusial untuk memacu minat investasi di sektor energi terbarukan dalam negeri.
Saat ini, portofolio kapasitas PLTS milik Pertamina NRE di Indonesia tercatat sebesar 50 hingga 60 megawatt (MW). Mayoritas dari infrastruktur tersebut merupakan PLTS captive yang berfungsi menyokong kebutuhan listrik di lingkungan operasional Pertamina.
Salah satu proyek signifikan yang telah berjalan adalah PLTS dengan kapasitas 26 MW di wilayah operasi Pertamina Hulu Rokan. Fokus utama perusahaan ke depan tetap pada upaya memperkuat ketahanan energi melalui sinergi lintas bisnis, sejalan dengan arahan strategis induk perusahaan.






