JAKARTA – Kinerja keuangan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) pada semester pertama 2026 menyoroti pergeseran paradigma dalam industri perbankan nasional. Kedua bank jumbo tersebut mencatatkan perolehan laba bersih yang hampir setara, yakni di kisaran Rp 29 triliun hingga Rp 30 triliun, meskipun memiliki skala aset yang sangat berbeda.
Data laporan keuangan menunjukkan laba bersih Bank Mandiri mencapai Rp 30,4 triliun pada semester I 2026, sementara BCA membukukan laba Rp 29,5 triliun. Namun, total aset konsolidasian Bank Mandiri tercatat sebesar Rp 2.527 triliun, jauh melampaui BCA yang berada di angka Rp 1.608 triliun.
Selisih aset sebesar Rp 867 triliun ini memicu perhatian pasar mengenai efisiensi operasional. Pengamat perbankan Moch Amin Nurdin menilai ukuran aset kini bukan lagi penentu tunggal profitabilitas perbankan.
Kemampuan sebuah bank dalam mengonversi aset menjadi pendapatan secara efisien dengan manajemen risiko yang terukur menjadi kunci utama saat ini. BCA dinilai memiliki keunggulan struktural yang sulit disamai pesaing melalui dominasi dana murah atau current account saving account (CASA).
Berdasarkan laporan semester I 2026, porsi CASA BCA mencapai 84,3% dari total dana pihak ketiga (DPK). Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan posisi CASA Bank Mandiri yang berada di level 69,2%.
Dominasi dana murah tersebut menekan biaya dana atau cost of fund BCA menjadi sangat rendah. Hal ini tecermin dari rasio Return on Asset (ROA) BCA yang mencapai 3,82%, lebih efisien dibandingkan Bank Mandiri yang mencatatkan ROA sebesar 3,10%.
Amin menjelaskan bahwa produktivitas aset BCA yang lebih tinggi secara matematis ditopang oleh efisiensi operasional dan besarnya kontribusi pendapatan berbasis komisi atau fee-based income. Faktor-faktor inilah yang memungkinkan BCA mencetak laba besar meski mengelola aset yang lebih kecil.
Meski demikian, perbedaan ROA tidak serta-merta menunjukkan kualitas bisnis Bank Mandiri lebih rendah. Kedua bank memiliki model bisnis yang beroperasi di segmen berbeda.
Sebagai bank BUMN, Bank Mandiri memegang peran strategis dalam pembiayaan korporasi besar, proyek infrastruktur, dan sektor prioritas pemerintah. Portofolio tersebut umumnya membutuhkan modal besar dengan tenor panjang serta margin yang lebih tipis dibandingkan bisnis komersial BCA.
Setiap jenis aset memiliki profil risiko dan tingkat pengembalian atau yield yang berbeda. Oleh karena itu, aset yang lebih besar tidak selalu berkorelasi lurus dengan peningkatan laba yang proporsional.
Terkait indikasi diminishing return pada Bank Mandiri, Amin menilai terlalu dini untuk menarik kesimpulan tersebut. Analisis mendalam memerlukan periode pengamatan yang lebih panjang untuk melihat konsistensi pertumbuhan laba.
Persaingan perbankan kini mulai bergeser dari sekadar adu besaran aset menuju adu efisiensi. Investor saat ini lebih memprioritaskan kemampuan bank dalam menghasilkan return maksimal dari setiap rupiah aset yang dikelola.
Transparansi kualitas laba dan manajemen risiko akan menjadi indikator utama penilaian pasar ke depan. Hal ini menjelaskan mengapa bank dengan aset lebih kecil seperti BCA kerap mendapatkan valuasi pasar yang lebih tinggi dibandingkan institusi lainnya.






