Valuta

Prediksi Rupiah Tertekan Pekan Depan, Simak Sentimen Penggerak Pasar Hari Ini

62
×

Prediksi Rupiah Tertekan Pekan Depan, Simak Sentimen Penggerak Pasar Hari Ini

Sebarkan artikel ini
Pecahan uang kertas rupiah dengan latar belakang grafik pasar keuangan yang menurun
Nilai tukar rupiah diprediksi kembali tertekan pekan depan akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

JAKARTA – Nilai tukar rupiah diprediksi masih akan menghadapi tekanan berat pada pekan depan. Sentimen eksternal terkait ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan mata uang Garuda.

Pada perdagangan Jumat (31/7/2026), rupiah ditutup pada level Rp18.022 per dolar AS. Secara mingguan, mata uang domestik ini tercatat melemah 0,32% dibandingkan posisi pada Jumat (24/7/2026) yang berada di angka Rp17.963 per dolar AS.

Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat memicu kekhawatiran baru di pasar global. Serangan rudal balistik Iran ke posisi pasukan AS di kawasan tersebut kembali meningkatkan ketidakpastian diplomatik.

Ketegangan ini mendorong investor untuk memburu aset safe haven seperti dolar AS. Hal tersebut secara otomatis memberikan tekanan jual terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Selain faktor geopolitik, pasar juga merespons kebijakan moneter Amerika Serikat. The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,50% hingga 3,75% dengan suara yang terpecah di internal FOMC.

Terdapat perbedaan pandangan di antara para pejabat bank sentral AS mengenai langkah pengetatan kebijakan. Ketua Fed, Kevin Warsh, mengisyaratkan kesiapan untuk bertindak lebih agresif jika tekanan inflasi domestik kembali meningkat.

Dari sisi domestik, perhatian pelaku pasar tertuju pada suksesi kepemimpinan di Bank Indonesia setelah pengunduran diri Perry Warjiyo. Ketidakpastian mengenai arah kebijakan bank sentral ke depan menjadi sorotan utama bagi investor.

Selain itu, tantangan fiskal di tingkat daerah serta hambatan dalam ekspor mineral turut memberikan sentimen negatif. Faktor-faktor ini menciptakan persepsi risiko yang lebih tinggi bagi pasar keuangan Indonesia.

Bank Indonesia sendiri tetap menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Fokus kebijakan diarahkan pada pengendalian inflasi dengan mempertahankan BI-Rate di level 5,75% sebagai jangkar moneter.

Research and Development ICDX, Muhammad Amru Syifa, memperkirakan volatilitas harga minyak dunia akan tetap tinggi akibat konflik Timur Tengah. Kondisi ini secara tidak langsung memperkuat posisi dolar AS di pasar global.

Namun, Amru menilai intervensi Bank Indonesia akan mampu meredam volatilitas agar tidak meluas. Arus masuk modal asing ke instrumen domestik akan menjadi kunci untuk menjaga cadangan devisa dan menopang rupiah.

Secara teknikal, Ibrahim memproyeksikan rupiah akan bergerak pada rentang Rp17.920 hingga Rp18.300 per dolar AS dalam sepekan ke depan. Sementara itu, Amru memprediksi pergerakan yang lebih sempit di kisaran Rp18.000 hingga Rp18.150 per dolar AS.