Energi

Ketegangan Geopolitik AS-Iran Dorong Harga Minyak Mentah Naik Pekan Depan

56
×

Ketegangan Geopolitik AS-Iran Dorong Harga Minyak Mentah Naik Pekan Depan

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan harga minyak mentah dunia di tengah ketegangan geopolitik Amerika Serikat dan Iran.
Harga minyak mentah diprediksi terus naik pekan depan akibat eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

JAKARTA – Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diproyeksikan akan terus mengalami kenaikan pada pekan depan dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi ini diperkirakan akan memicu lonjakan harga energi global terbesar dalam empat tahun terakhir sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.

Berdasarkan data Trading Economics per Jumat (31/7), harga minyak mentah WTI berada di level US$ 84,67 per barel. Angka tersebut mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 23,46% dalam kurun waktu satu bulan terakhir.

Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa konflik di Timur Tengah menjadi faktor utama yang memanaskan harga minyak dunia. Amerika Serikat dan Israel dilaporkan sedang mempersiapkan kampanye pengeboman besar-besaran terhadap infrastruktur energi milik Iran.

Arab Saudi saat ini telah menyerukan persatuan di antara negara-negara Arab dalam merespons blokade yang dilakukan oleh Houthi Yaman dan Iran di Laut Merah. Jalur tersebut merupakan rute krusial bagi distribusi minyak mentah milik Arab Saudi ke pasar global.

Blokade di Selat Hormuz menyebabkan terbatasnya transportasi minyak di wilayah tersebut. Situasi ini dinilai berpotensi menciptakan ketegangan pasar yang lebih dalam jika serangan militer berskala besar benar-benar dilakukan oleh pihak AS dan Israel.

Ibrahim memproyeksikan pergerakan harga minyak mentah WTI dalam sepekan ke depan akan berada di kisaran US$ 80,50 hingga US$ 96 per barel. Volatilitas harga ini diprediksi akan menjadi tantangan baru bagi stabilitas ekonomi global di tengah kekhawatiran pasokan.

Selain dampak geopolitik, pasar energi juga tengah mencermati dinamika ekonomi makro yang memengaruhi mata uang. Pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury turut menjadi sentimen yang menekan nilai tukar mata uang global, termasuk Rupiah.

Ketidakpastian pasokan akibat konflik ini diperparah dengan kekhawatiran pelaku pasar akan krisis energi yang berkepanjangan. Secara teknis, setiap gangguan pada infrastruktur energi di Timur Tengah akan memberikan guncangan instan terhadap harga komoditas dunia.

Kondisi geopolitik yang tidak menentu ini membuat investor cenderung beralih ke aset aman atau meningkatkan posisi pada komoditas energi. Hal ini didorong oleh persepsi bahwa harga minyak mentah akan terus menguat selama ketegangan di Selat Hormuz belum menemui titik terang.

Para pelaku pasar energi dunia kini menantikan langkah diplomatik maupun militer selanjutnya dari pihak-pihak yang terlibat. Ketegangan ini menjadi perhatian utama karena dampaknya yang meluas terhadap biaya produksi industri global dan inflasi di berbagai negara.

Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda penurunan eskalasi di Timur Tengah yang dapat meredakan tekanan pada harga komoditas. Fokus utama pasar tetap tertuju pada kebijakan keamanan energi yang akan diambil oleh negara-negara produsen utama.