Energi

Cina Nyatakan Kesiapan Garap Proyek PLTS 100 GW di Indonesia

64
×

Cina Nyatakan Kesiapan Garap Proyek PLTS 100 GW di Indonesia

Sebarkan artikel ini
Utusan Khusus Perubahan Iklim Cina, Liu Zhenmin, berbicara dalam acara Indonesia Net Zero Summit 2026 di Jakarta.
Utusan Khusus Perubahan Iklim Cina, Liu Zhenmin, menegaskan dukungan Beijing terhadap proyek PLTS 100 GW di Indonesia.

JAKARTA – Pemerintah Cina menyatakan kesiapan penuh untuk mendukung Indonesia dalam merealisasikan ambisi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan total kapasitas mencapai 100 Gigawatt (GW). Dukungan ini ditegaskan oleh Utusan Khusus Perubahan Iklim Cina, Liu Zhenmin, dalam gelaran Indonesia Net Zero Summit 2026 di Jakarta, Sabtu (1/8).

Liu menyatakan bahwa Beijing secara aktif mendorong perusahaan-perusahaan asal Cina untuk menjalin kemitraan strategis dengan pelaku industri lokal di Indonesia. Kolaborasi ini diarahkan untuk mempercepat transisi energi nasional sekaligus mendukung target netralitas karbon global.

Menurut Liu, kerja sama antarnegara berkembang atau global south merupakan instrumen krusial dalam tata kelola iklim dunia. Ia menilai sinergi ini menjadi penyeimbang di tengah kecenderungan sejumlah negara maju yang dinilai melambat dalam aksi iklim.

Beberapa negara maju bahkan disebut menarik diri dari perjanjian iklim global yang telah disepakati sebelumnya. Hal ini berdampak pada terhambatnya pemenuhan komitmen pendanaan iklim serta transfer teknologi ke negara-negara berkembang.

Dalam upaya membangun sistem energi terbarukan yang masif, Cina berkomitmen menggalakkan kerja sama pembangunan hijau dan rendah karbon. Hingga saat ini, Cina tercatat telah menjalankan proyek energi hijau di lebih dari 100 negara dan wilayah di seluruh dunia.

Data hingga Juni 2026 menunjukkan bahwa Cina telah menandatangani 56 nota kesepahaman (MoU) terkait perubahan iklim dengan 43 negara berkembang. Langkah ini menjadi bukti konkret komitmen Beijing dalam memberikan dukungan maksimal kepada negara-negara berkembang lainnya.

“Cina siap bekerja sama dengan Indonesia dan pihak-pihak lain untuk memberikan kontribusi yang lebih besar dalam mencapai netralitas karbon global,” ujar Liu menegaskan posisi negaranya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, telah mengundang investor Cina untuk terlibat dalam proyek PLTS 100 GW tersebut. Ajakan ini disampaikan langsung oleh Airlangga dalam pertemuan dengan Menteri Perdagangan Cina, Wang Wentao, di Shanghai pada pertengahan Juli lalu.

Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas penguatan kerja sama di berbagai sektor strategis, termasuk ekonomi, perdagangan, dan transisi energi. Pemerintah Indonesia secara khusus mengapresiasi keterlibatan investasi Cina dalam pembangunan PLTS Terapung Cirata.

Proyek PLTS Terapung Cirata sendiri dipandang sebagai tolok ukur keberhasilan kolaborasi Indonesia-Cina di sektor energi. Keberhasilan tersebut diharapkan menjadi dasar yang kuat untuk merealisasikan target 100 GW PLTS di masa mendatang.

Rencana pembangunan ini selaras dengan tren global di mana kapasitas energi surya terus menjadi fokus utama transisi energi. Sebagai perbandingan, sektor penyimpanan energi di Eropa kini telah melampaui kapasitas 100 GW, menunjukkan percepatan adopsi teknologi bersih yang masif di pasar internasional.

Indonesia sendiri menghadapi tantangan bottleneck dalam pengembangan energi surya yang memerlukan dukungan teknis dan investasi besar. Keterlibatan investor dari Cina diharapkan dapat memecah kebuntuan tersebut melalui transfer keahlian dan pendanaan yang kompetitif.