Valuta

Ditopang Data PDB, Rupiah Berpotensi Lanjutkan Penguatan terhadap Dolar AS

54
×

Ditopang Data PDB, Rupiah Berpotensi Lanjutkan Penguatan terhadap Dolar AS

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan nilai tukar mata uang Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat di layar monitor
Nilai tukar rupiah mencatatkan tren penguatan signifikan terhadap dolar AS pada perdagangan Rabu (5/8/2026).

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mencatatkan tren penguatan signifikan pada perdagangan Rabu (5/8/2026). Mata uang Garuda ditutup menguat 0,52% ke level Rp 17.933 per dolar AS di pasar spot.

Data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga mengonfirmasi penguatan tersebut sebesar 0,55% ke posisi Rp 17.937 per dolar AS. Sementara itu, data Trading Economics mencatat rupiah berada di level Rp 17.919,6 per dolar AS atau naik 0,28%.

Penguatan ini dipicu oleh meredanya tekanan eksternal global setelah munculnya sinyal deeskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi ini meningkatkan optimisme pasar terkait pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai jalur vital energi dunia.

Normalisasi jalur logistik energi tersebut berdampak langsung pada penurunan harga minyak mentah global. Selain itu, imbal hasil atau yield Treasury AS tenor 10 tahun kini melandai ke level 4,60%, sementara Indeks Dolar (DXY) melemah ke angka 99,814.

Sentimen positif dari luar negeri tersebut berpadu dengan fundamental domestik yang solid. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 mencapai 5,29%.

Angka tersebut melampaui konsensus pasar yang memprediksi pertumbuhan di level 5,10%. Meskipun melambat dibandingkan kuartal sebelumnya yang berada di angka 5,61%, capaian ini tetap memberikan keyakinan bagi investor.

Masuknya aliran modal asing ke pasar domestik juga terlihat dari kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menguat 0,56%. Selain itu, yield Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun turut mengalami penurunan dari 7,36% menjadi 7,277%.

Kondisi ekonomi makro yang stabil ini membantu meredakan risiko inflasi impor di Indonesia. Pemerintah juga terbantu dalam menekan kebutuhan valuta asing untuk sektor energi serta meringankan beban subsidi nasional.

Meski demikian, pelaku pasar tetap menjaga kewaspadaan terhadap dinamika global yang belum sepenuhnya stabil. Kelanjutan proses diplomasi antara AS dan Iran menjadi faktor kunci yang terus dipantau oleh para investor.

Pasar juga menanti rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat, yakni laporan ADP dan Nonfarm Payrolls (NFP). Data tersebut akan menjadi acuan utama bagi bank sentral AS, The Fed, dalam menentukan arah kebijakan suku bunga ke depannya.

Di sisi domestik, kualitas pertumbuhan ekonomi tetap menjadi perhatian, terutama dengan adanya perlambatan konsumsi rumah tangga ke level 5,06%. Bank Indonesia diprediksi akan terus melakukan langkah stabilisasi untuk menjaga fluktuasi nilai tukar.

Berdasarkan proyeksi analis, rupiah berpotensi melanjutkan tren positif pada perdagangan Kamis (6/8/2026). Nilai tukar diprediksi bergerak dalam rentang Rp 17.900 hingga Rp 17.980 per dolar AS.

Sebelumnya, rupiah sempat mengalami tekanan berat hingga menembus level psikologis Rp 18.000 per dolar AS. Pelemahan tersebut dipicu oleh memburuknya neraca perdagangan serta ketidakpastian kondisi ekonomi global yang sempat memicu aksi jual aset berisiko di pasar berkembang.