Bursa Saham

Pendapatan Proline (PRDL) Turun 51,9%, Fokus Diversifikasi Produk di 2026

40
×

Pendapatan Proline (PRDL) Turun 51,9%, Fokus Diversifikasi Produk di 2026

Sebarkan artikel ini
Grafik kinerja keuangan PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) yang mengalami penurunan pendapatan di semester I-2026.
PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 51,9% pada semester I-2026.

JAKARTA – PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) mencatatkan kinerja keuangan yang terkoreksi sepanjang semester I-2026. Emiten yang dikenal dengan nama Proline ini membukukan pendapatan sebesar Rp 13,7 miliar, turun 51,9% secara tahunan (year-on-year/YoY) dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp 28,5 miliar.

Manajemen PRDL menjelaskan bahwa penurunan pendapatan tersebut dipicu oleh pergeseran waktu pembelian pelanggan. Fenomena ini terjadi seiring dengan penambahan metode Point-of-Care Testing (POCT) Lipid Panel sebagai alternatif pemeriksaan profil lipid.

Perubahan tersebut dinilai hanya memberikan dampak sementara terhadap pola dan komposisi pembelian selama masa transisi. Pihak perusahaan menegaskan bahwa kondisi ini bukan merupakan cerminan dari penurunan kebutuhan diagnostik atau hilangnya basis pelanggan.

Di tengah penurunan pendapatan, segmen instrumen justru mencatatkan pertumbuhan signifikan sebesar 172% secara tahunan menjadi Rp 5,8 miliar. Secara keseluruhan, sekitar 69% dari total pendapatan semester I-2026 masih disumbangkan oleh pelanggan dari sektor swasta.

Dari sisi profitabilitas, perusahaan mencatatkan laba kotor sebesar Rp 4,5 miliar dengan margin laba kotor (GPM) di level 33,0%. Margin ini dipengaruhi oleh fase awal peningkatan kapasitas fasilitas produksi baru, termasuk beban depresiasi gedung yang mulai dibukukan sejak semester II-2025.

Kondisi operasional perusahaan juga mengalami tekanan, dengan catatan rugi sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (LBITDA) sebesar Rp 4,3 miliar. Angka ini berbalik dari posisi EBITDA positif sebesar Rp 9,3 miliar pada semester I-2025.

Selain itu, PRDL membukukan rugi usaha sebesar Rp 7,6 miliar. Sementara itu, rugi bersih yang dicatatkan perusahaan pada semester pertama tahun ini mencapai Rp 8,8 miliar.

Manajemen menyatakan bahwa perusahaan tetap menjaga kesiapan operasional guna mendukung pertumbuhan di masa depan. Struktur biaya dan kapasitas produksi yang telah tersedia diharapkan mampu memperkuat operating leverage seiring dengan peningkatan volume penjualan.

Langkah ini diproyeksikan akan mendukung normalisasi profitabilitas secara bertahap. Perusahaan tetap optimistis terhadap prospek pertumbuhan dan menargetkan peningkatan pendapatan dua digit sepanjang tahun 2026.

Target pertumbuhan tersebut akan didorong melalui komersialisasi produk baru serta peningkatan utilisasi kapasitas produksi. Saat ini, PRDL tengah fokus memperkuat diversifikasi sumber pendapatan melalui pengembangan solusi POCT dan perluasan layanan kalibrasi.

Terdapat 27 produk yang saat ini berada dalam tahap pengembangan atau pipeline. Dari jumlah tersebut, sebanyak 15 produk ditargetkan untuk segera diluncurkan ke pasar pada tahun ini.

Penguatan solusi POCT dan pengembangan produk baru merupakan bagian dari strategi utama untuk memperluas cakupan layanan diagnostik. Langkah ini diharapkan mampu membuka sumber-sumber pertumbuhan baru bagi perusahaan ke depannya.

Optimalisasi fasilitas produksi baru menjadi prioritas utama perusahaan dalam meningkatkan efisiensi operasional. Peningkatan utilisasi fasilitas tersebut diharapkan dapat mendorong perbaikan margin dan memperkuat profitabilitas perusahaan secara berkelanjutan.