Jakarta – Presiden AS Donald Trump kembali mengumumkan rencana kontroversial, yaitu pengenaan tarif impor hingga 200 persen untuk produk farmasi.
Pengumuman ini disampaikan pada Rabu (9/7/2025).
Trump memberi waktu sekitar satu hingga satu setengah tahun bagi perusahaan farmasi untuk memindahkan produksi mereka kembali ke AS.
“Kami akan memberi mereka waktu tertentu untuk memperbaiki tindakan mereka,” ujar Trump, dikutip dari CNBC Internasional.
Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick menyatakan rincian tarif impor sektor farmasi akan dirilis akhir Juli. keputusan akhir tetap berada di tangan Trump.
“Riset produk farmasi dan semikonduktor akan selesai akhir bulan ini. Presiden akan menetapkan kebijakannya saat itu,” jelas Lutnick.
Pengumuman ini tidak banyak memengaruhi pergerakan saham farmasi. Pasar masih meragukan realisasi tarif ini, mengingat Trump sering mengubah arah kebijakan.
Rencana tarif impor ini diprediksi menjadi pukulan berat bagi perusahaan farmasi. Pelaku usaha menolak rencana tersebut dan memperingatkan kebijakan ini dapat meningkatkan biaya, menghambat investasi, dan mengganggu rantai pasokan obat.
Industri farmasi saat ini sudah merasakan dampak dari kebijakan penetapan harga obat yang diterapkan Trump. Produsen obat mengklaim regulasi ini mengancam laba bersih dan kemampuan mereka untuk berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan.
Trump berpendapat tarif impor akan memberikan insentif bagi perusahaan farmasi seperti Eli Lilly, Johnson & Johnson, dan Abbvie untuk memindahkan operasi manufaktur ke AS.Investasi dalam produksi obat dalam negeri telah menyusut drastis dalam beberapa dekade terakhir.







