Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan sinyal positif di awal tahun 2026. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bahkan meyakini bahwa performa ini hanyalah permulaan dari tren positif yang akan terus berlanjut.
IHSG sempat merangkak naik mendekati level 9.000, tepatnya di angka 8.945 hingga 8.964 menjelang penutupan pasar pada Kamis (8/1).
Menanggapi hal ini, Purbaya optimistis bahwa ekonomi Indonesia akan terus membaik, sehingga mendorong IHSG mencapai level terbaiknya.
“Jadi yang itu, IHSG yang naik ke 9.000 itu tadi, itu baru awal,” ujarnya dalam konferensi pers APBN KiTA Tahun 2025 di Jakarta, Kamis (8/1).
“Perkiraan saya akan naik terus karena ekonomi kita akan kita manage ke arah perbaikan terus ke depan,” imbuhnya.
Meskipun pasar modal sempat mengalami penurunan di awal tahun 2025 dan semakin dalam pada September 2025, tren positif kembali terlihat mulai Oktober hingga Desember 2025.
Hal ini ditandai dengan kembalinya investor asing ke pasar Indonesia, dengan total investasi mencapai Rp 6,1 triliun pada Desember 2025.
“Trennya menuju ke positif dan di Desember sudah positif dengan total inflow mencapai Rp 6,1 Triliun. Di bulan November-Desember mencapai Rp 46,8 triliun,” jelas Purbaya.
Selain itu, *inflow* Surat Berharga Negara (SBN) hingga Desember 2025 tercatat naik menjadi Rp 6,49 triliun, Sertifikat Rupiah Bank Indonesia (SRBI) naik menjadi Rp 27,40 triliun, dan saham mencapai Rp 12,24 triliun.
Purbaya meyakini kredibilitas ekonomi dan pasar keuangan Indonesia telah kembali ke tren positif dan akan terus berlanjut hingga tahun 2026.
“Artinya, asing sudah masuk ke sini lagi. *Inflow* ya. Kalau *inflow* kan asing kan. Jadi, sudah masuk ke sini lagi. Jadi, Anda lihat di sini, kredibilitas ekonomi dan pasar keuangan kita sudah kembali. Dan ini dilanjutkan, saya yakin akan terus berlanjut di tahun 2026 ini,” tegasnya.
Sebelumnya, IHSG dibuka di zona hijau dan hampir menyentuh level 9.000, tepatnya di angka 8.964 pada pembukaan perdagangan Kamis (8/1).
Pada pukul 13.45 WIB, IHSG mencatatkan rekor dengan penguatan sebesar 0,22 persen atau 19,24 basis poin.
Data RTI Business mencatat volume transaksi perdagangan mencapai 36.322 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 17.762 triliun dan frekuensi transaksi 2.634.412 kali.







