Jakarta – Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan seluruh negara agar tidak mengandalkan subsidi bahan bakar minyak (BBM) secara luas untuk meredam lonjakan harga energi global.Kebijakan tersebut dinilai berisiko memperburuk kondisi fiskal dan memicu tekanan ekonomi yang lebih besar dalam jangka panjang.
Dalam laporan Fiscal Monitor terbaru, IMF menyoroti bahwa lonjakan harga energi akibat konflik geopolitik telah mendorong banyak negara mencari cara cepat untuk melindungi daya beli masyarakat. Namun, IMF menegaskan bahwa subsidi energi bukan solusi yang tepat jika diterapkan secara menyeluruh.
Kepala Urusan Fiskal IMF, Rodrigo Valdes, menyarankan pemerintah untuk beralih ke pendekatan yang lebih terarah. Ia merekomendasikan pemberian bantuan tunai sementara yang ditujukan khusus bagi kelompok masyarakat rentan.
“Kami tidak punya cukup minyak dan energi. Energi memang perlu menjadi lebih mahal bagi semua orang agar penyesuaian terjadi dan konsumsi bisa menurun,” ujar Valdes.
Menurut Valdes,harga energi yang tinggi merupakan sinyal penting bagi pasar agar permintaan dapat menyesuaikan dengan kondisi pasokan. Jika pemerintah menahan harga melalui subsidi besar-besaran, sinyal pasar tersebut menjadi tidak efektif.
“Jika harga ditekan, maka harga global justru bisa menjadi lebih tinggi. Sangat penting untuk memberikan sinyal harga agar permintaan bisa menyesuaikan,” tambahnya.IMF mencatat bahwa kondisi fiskal global saat ini sedang dalam tekanan berat. Saat ini, utang pemerintah di berbagai negara tercatat mencapai 93,9 persen dari produk domestik bruto (PDB) global.







