PADANG – Menjadi tamu Allah di Tanah Suci bukan sekadar perjalanan spiritual bagi Nurlena (64). Bagi pedagang sayur asal Kabupaten Tanah Datar ini, ibadah haji adalah muara dari perjuangan panjang dan keringat yang ia kumpulkan selama belasan tahun.
Keteguhan Nurlena teruji lewat rutinitas hariannya yang dimulai sejak dini hari. Ia biasa menyambangi Pasar Padang Lua, Kabupaten Agam, untuk membeli sayuran yang kemudian ia jajakan hingga ke Pekanbaru, Riau.
Meski harus bergelut dengan cuaca ekstrem, lelah di perjalanan, hingga ketatnya persaingan dagang, Nurlena tetap disiplin menyisihkan keuntungan demi impian ke Makkah. Selama 13 tahun, ia konsisten menabung sedikit demi sedikit dari hasil kerja kerasnya.
Langkah konkret menuju Baitullah dimulai pada 2013 saat ia mendaftarkan diri sebagai calon jemaah haji. Setelah menanti giliran cukup lama, ia akhirnya berangkat menunaikan rukun Islam kelima tersebut di usia 64 tahun.
Sesampainya di Tanah Suci, rasa syukur membuncah di hati Nurlena. Meskipun kondisi fisik membuatnya harus mewakilkan atau membadalkan prosesi lontar jumrah pada hari kedua dan ketiga, ia tetap merasa lega karena rangkaian ibadahnya tuntas.
“Walaupun lontar jumrah hari kedua dan ketiga dibadalkan karena kondisi, saya tetap sangat bersyukur. Bisa sampai ke Tanah Suci dan menyelesaikan ibadah haji merupakan nikmat yang luar biasa bagi saya,” ungkapnya dengan haru saat ditemui Tim Humas PPIH Debarkasi Padang.
Kini, Nurlena telah kembali ke Tanah Air dengan menyandang gelar hajah. Meski ia harus kembali ke rutinitas lamanya di lapak sayur, impian yang ia rajut dengan kesabaran selama lebih dari satu dekade tersebut kini telah resmi menjadi kenyataan.







