JAKARTA – Eskalasi konflik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran menjadi katalis utama pelemahan mata uang di berbagai negara, termasuk Indonesia. Sepanjang tahun 2026, pergerakan nilai tukar rupiah diproyeksikan bakal sangat bergantung pada kombinasi sentimen geopolitik global dan kondisi fundamental ekonomi domestik.
Hingga pekan keenam, konflik di Timur Tengah masih menunjukkan ketidakpastian tinggi. Upaya de-eskalasi yang sempat muncul pasca-pengumuman gencatan senjata oleh Presiden AS Donald Trump pada 7 April lalu, kembali memudar setelah memanasnya situasi di Lebanon dan penutupan kembali Selat Hormuz oleh Iran.
Chief Economist BRI Danareksa Sekuritas, Helmy Kristanto, menilai volatilitas pasar saat ini jauh lebih tajam dan terkonsentrasi dibandingkan periode perang Rusia-Ukraina pada 2022.
Dari sisi domestik, pelemahan rupiah diperparah oleh kerentanan fondasi eksternal dan persepsi risiko investor. Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menjelaskan bahwa pasar saat ini tengah menimbang sejumlah indikator negatif, mulai dari menyempitnya surplus perdagangan, potensi defisit transaksi berjalan, hingga penurunan cadangan devisa yang tercatat sebesar US$ 148,2 miliar pada Maret 2026.
Tekanan tersebut semakin berat setelah lembaga pemeringkat internasional, Moody’s dan Fitch, merevisi prospek peringkat Indonesia menjadi negatif. Hal ini memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap kejelasan dampak program sosial pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang agresif.
Di tengah kondisi ini, Bank Indonesia (BI) menghadapi tantangan berat untuk menyeimbangkan stabilitas eksternal dan pengendalian inflasi. Analis memprediksi BI kemungkinan besar akan menahan suku bunga acuan hingga akhir tahun demi mengantisipasi tekanan harga minyak yang berpotensi memicu inflasi berkelanjutan.
Terdapat enam faktor krusial yang akan menentukan arah pergerakan rupiah ke depan:
1. Stabilitas jalur energi di Selat Hormuz dan harga minyak dunia.
2. Arah kebijakan suku bunga dan inflasi Amerika Serikat.
3. Fluktuasi dolar AS serta imbal hasil obligasi AS.
4. Arus modal asing ke pasar domestik (obligasi, saham, dan sekuritas BI).
5. Kinerja neraca pembayaran dan cadangan devisa.
6. Kredibilitas fiskal dan sentimen kebijakan domestik, termasuk hasil dari pembentukan Danantara.
Selain faktor geopolitik, risiko domestik lain datang dari potensi kemarau panjang akibat fenomena El Nino pada semester II-2026. Jika fenomena ini mengganggu produksi pangan dan energi, ruang stabilitas rupiah akan semakin sempit.
Terkait proyeksi nilai tukar hingga akhir tahun 2026, para analis memberikan estimasi yang bervariasi. Josua Pardede memprediksi rupiah berada di kisaran Rp 16.900 hingga Rp 17.000 per dolar AS. Sementara itu, Brahmantya Himawan dari PT Finex Bisnis Solusi Future memperkirakan rentang yang lebih lebar di angka Rp 17.100 hingga Rp 17.600 per dolar AS.
Di sisi lain, Budi Rustanto dari OCBC Sekuritas memperkirakan rupiah stabil di level Rp 16.830 per dolar AS, sedangkan Ezaridho Ibnutama dari NH Korindo Sekuritas mematok target akhir tahun di kisaran Rp 17.250 – Rp 17.350 per dolar AS akibat masih tingginya ketidakpastian geopolitik global.







