Tutup
EkonomiEnergiPerbankan

Qatar Ingatkan AS: Konflik Iran Lumpuhkan Pasokan Energi

227
×

Qatar Ingatkan AS: Konflik Iran Lumpuhkan Pasokan Energi

Sebarkan artikel ini
bos-qatarenergy-soal-dampak-konflik-iran:-saya-ingatkan-as-setiap-hari
Bos QatarEnergy soal Dampak Konflik Iran: Saya Ingatkan AS Setiap Hari

Jakarta – CEO QatarEnergy, saad al-Kaabi, memperingatkan Amerika Serikat (AS) tentang potensi bahaya besar terkait pasokan energi jika konflik dengan Iran memanas. Peringatan ini muncul terkait kemungkinan fasilitas energi Iran menjadi sasaran serangan AS dan Israel.

Al-kaabi menyampaikan peringatan ini dalam wawancara eksklusif dengan Reuters, Minggu (22/3).

“Mereka sadar akan ancaman itu. Saya selalu mengingatkan mereka,hampir setiap hari,bahwa kita perlu memastikan adanya pengendalian terhadap fasilitas minyak dan gas,” tegas Al-Kaabi.

Sebagai Menteri energi Qatar,Al-Kaabi juga aktif mengingatkan para eksekutif sektor minyak dan gas,termasuk mitra perusahaan seperti Exxon Mobil dan ConocoPhillips.

“Saya selalu memperingatkan, berbicara dengan para eksekutif minyak dan gas yang bermitra dengan kami, berbicara dengan Menteri Energi AS, untuk memperingatkannya akan konsekuensi tersebut dan bahwa hal itu bisa merugikan kita,” ujarnya.

Menanggapi risiko serangan ke Iran terhadap pasokan energi,ExxonMobil belum memberikan komentar. Sementara itu, ConocoPhillips menegaskan komitmennya pada kemitraan jangka panjang.

“Kami tetap berkomitmen penuh pada kemitraan jangka panjang kami dan akan terus bekerja sama dengan QatarEnergy dalam jalur pemulihan,” kata juru bicara ConocoPhillips.

Departemen Energi AS menyerahkan masalah ini kepada Gedung Putih. Juru bicara Gedung Putih, Taylor Rogers, menyatakan bahwa Presiden Donald Trump dan tim energi menyadari risiko gangguan jangka pendek pada pasokan minyak dan gas akibat serangan ke Iran.

Rogers juga mengklaim bahwa pihaknya telah mengantisipasi kondisi tersebut.

Pernyataan Al-Kaabi muncul setelah serangan rudal Iran menghantam kompleks gas alam cair (LNG) Ras Laffan di Qatar, fasilitas gas alam cair terbesar di dunia. Serangan itu merusak infrastruktur penting dan mengganggu pasokan energi global.

Serangan tersebut menyebabkan hilangnya 17 persen kapasitas ekspor LNG Qatar. Pemulihan diperkirakan memakan waktu berbulan-bulan,bahkan bertahun-tahun,menunda rencana ekspansi produksi gas negara itu.

Gangguan ini berpotensi berdampak luas, mengingat Qatar adalah pemasok utama gas untuk Eropa dan Asia. Jika pasokan terganggu dalam waktu lama, harga energi global bisa melonjak.

Dampak terbesar terjadi di kompleks LNG Ras Laffan milik QatarEnergy. Al-Kaabi mengatakan kepada reuters bahwa kerusakan mencapai US$26 miliar dan akan memengaruhi pengiriman LNG ke Eropa dan Asia hingga lima tahun ke depan.

Serangan terhadap ras Laffan tidak hanya melumpuhkan 17 persen kapasitas ekspor LNG Qatar, tetapi dampaknya akan bertahan hingga lima tahun karena kerusakan pada beberapa bagian.

“Kotak pendingin (cold boxes) telah hancur,” kata Al-Kaabi, merujuk pada mekanisme pendinginan yang rusak pada dua dari 14 unit pemrosesan kompleks tersebut.

Al-Kaabi juga mengklaim akan ada penundaan ekspansi di ras Laffan, yang berdampak pada pengiriman gas ke negara-negara termasuk Prancis, Jerman, dan China mulai 2027.

Ekspansi tersebut seharusnya memperkuat posisi Doha sebagai eksportir LNG utama dunia, meningkatkan kapasitas produksi Qatar dari 77 juta menjadi 126 juta ton per tahun pada 2027.

“Tidak ada pekerjaan yang berlangsung pada ekspansi North field. Tidak ada pekerja di sana.ini pasti tertunda,” kata Al-Kaabi.”Saya pikir ini akan tertunda selama berbulan-bulan,jika tidak setahun atau lebih.”

Produksi QatarEnergy hanya dapat dimulai kembali jika permusuhan berakhir. Bahkan setelah itu, dibutuhkan setidaknya tiga hingga empat bulan untuk kembali melakukan penguatan muatan secara penuh, kata Al-Kaabi.

QatarEnergy berpotensi menyatakan keadaan kahar (force majeure) pada kontrak jangka panjang LNG dengan berbagai negara, termasuk Korea Selatan, hingga lima tahun ke depan.

Al-Kaabi mengatakan gangguan tersebut dapat berdampak pada pengiriman ke Italia, Belgia, Korea Selatan, dan Tiongkok karena kerusakan pada dua jalur produksi LNG.

“Ini adalah kontrak jangka panjang yang harus kami nyatakan keadaan kahar. Kami sudah menyatakannya,tetapi itu untuk jangka waktu yang lebih pendek. Sekarang, berapa pun jangka waktunya,” pungkasnya.