Tutup
Regulasi

Rupiah Terombang-ambing: Peluang dan Tantangan di Tengah Pelemahan Dolar

335
×

Rupiah Terombang-ambing: Peluang dan Tantangan di Tengah Pelemahan Dolar

Sebarkan artikel ini

Jakarta – Pelemahan indeks dolar Amerika Serikat (AS) di penghujung tahun ini seharusnya menjadi angin segar bagi penguatan rupiah. Namun, tingginya permintaan dolar dan arus modal asing yang masih terbatas membuat mata uang Garuda ini kesulitan untuk menguat.

Indeks Dolar AS (DXY) kembali tertekan di bawah level 100. Pada Senin (29/12/2025) pukul 15.44 WIB, indeks dolar berada di level 98,03. Dalam sebulan terakhir, indeks ini turun 1,44%.

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual, menjelaskan bahwa tekanan pada indeks dolar saat ini didorong oleh sentimen penguatan mata uang utama lainnya seperti Euro.

Pasar mulai memperhitungkan bahwa siklus pemangkasan suku bunga European Central Bank (ECB) telah selesai dan bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga pada tahun 2026. Selain itu, kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan (BoJ) menjadi 0,75% pada pertemuan Desember juga menambah tekanan pada dolar AS.

David menambahkan, tekanan terhadap DXY berpotensi berlanjut pada 2026 jika The Fed tetap melanjutkan kebijakan pelonggaran, sementara bank sentral lainnya mulai menaikkan suku bunga.

Sementara itu, Global Market Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, berpendapat bahwa pelemahan DXY di akhir tahun ini disebabkan oleh dampak penurunan The Fed Rate pada bulan Desember 2025 yang memangkas suku bunga acuan AS menjadi 3,50% – 3,75%.

Namun, Myrdal memprediksi penguatan kembali DXY akan terjadi dalam waktu dekat. “Saya lihat awal tahun DXY akan menguat lagi, karena permintaan dolar yang tinggi untuk kebutuhan investasi di AS. Itu yang akan memperkuat posisi DXY di awal tahun,” ujarnya.

Dengan melemahnya DXY, momentum ini seharusnya membuka peluang bagi rupiah untuk menguat. “Pelemahan DXY dapat meringankan tekanan terhadap rupiah,” ujar David.

Tren pelemahan rupiah yang masih berlangsung hingga saat ini dipengaruhi oleh arus keluar investor asing dari pasar obligasi domestik. Rupiah berpotensi menguat jika DXY melanjutkan tren koreksi, arus modal asing kembali masuk ke pasar obligasi dan saham domestik, serta persepsi risiko fiskal membaik.

Namun, Myrdal berpandangan sebaliknya. Rupiah masih akan bergerak volatile pada paruh pertama tahun 2026. Periode ini bertepatan dengan meningkatnya kebutuhan impor, terutama menjelang dan saat musim puncak Lebaran, yang akan mendorong permintaan dolar AS.

Selain itu, pada April hingga Mei biasanya terjadi peningkatan kebutuhan valuta asing untuk pembayaran dividen ke luar negeri, pelunasan utang, serta pembayaran bunga utang.

Meski demikian, Myrdal menilai apresiasi rupiah masih terbuka. Hal ini seiring kecenderungan penguatan dolar AS terhadap rupiah yang bersifat musiman serta dampak positif kebijakan devisa hasil ekspor (DHE). Kebijakan tersebut dinilai meningkatkan pasokan dolar AS di dalam negeri, sehingga memperbesar ruang stabilisasi nilai tukar.

Realisasi kinerja perdagangan luar negeri yang terus mencatatkan surplus serta potensi kembalinya aliran modal asing ke pasar keuangan domestik, baik pasar saham maupun Surat Berharga Negara (SBN), juga menjadi faktor pendukung penguatan rupiah di tahun 2026.

“Memang secara fundamental harusnya rupiah itu menguat. Tapi karena kebutuhan dolar AS masih tinggi, realisasi dari FDI belum terlihat, realisasi hasil ekspornya juga belum kelihatan, ini yang membuat kenapa rupiah masih relatif tertekan terhadap dolar AS,” jelas Myrdal.

Dengan berbagai faktor di atas, David memproyeksikan rupiah pada tahun 2026 akan bergerak di kisaran Rp 16.800 – Rp 17.000 per dolar AS. Sementara Myrdal memproyeksikan rupiah akan berada di rentang Rp 16.149 – Rp 16.922 per dolar AS.