Bursa Saham

Saham Semikonduktor Anjlok, S&P 500 dan Nasdaq Tertekan Hari Ini

77
×

Saham Semikonduktor Anjlok, S&P 500 dan Nasdaq Tertekan Hari Ini

Sebarkan artikel ini
Papan layar elektronik yang menampilkan pergerakan indeks saham di bursa Wall Street, New York.
Pergerakan indeks saham Wall Street yang tertekan oleh penurunan harga saham sektor semikonduktor.

NEW YORK – Bursa saham Amerika Serikat, Wall Street, bergerak variatif pada perdagangan Kamis (16/7/2026), dengan indeks S&P 500 dan Nasdaq melemah akibat berlanjutnya aksi jual pada saham-saham sektor semikonduktor.

Indeks Dow Jones Industrial Average justru mencatatkan kenaikan sebesar 82,28 poin atau 0,16% ke level 52.740,92 hingga pukul 09.50 waktu setempat.

Namun, indeks S&P 500 terkoreksi 29,56 poin atau 0,39% menuju posisi 7.542,84.

Indeks Nasdaq Composite mencatat penurunan lebih dalam sebesar 262,08 poin atau 1% ke level 26.007,14.

Tekanan utama datang dari sektor chip, di mana indeks Philadelphia SE Semiconductor merosot tajam sebesar 3,8%.

Saham Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. (TSMC) yang tercatat di bursa AS turun 2,5%, meski perusahaan tersebut melaporkan laba kuartal II yang melampaui ekspektasi pasar.

Produsen chip memori lainnya turut tertekan dengan Western Digital dan Seagate Technology masing-masing melemah 7,3%.

Sementara itu, saham Micron Technology ikut terdorong turun sebesar 4,8%.

Para analis menilai reli pada saham semikonduktor saat ini mulai mendingin setelah kenaikan signifikan sepanjang tahun berjalan.

Pengamat pasar menyebutkan bahwa adopsi kecerdasan buatan (AI) secara luas membutuhkan waktu lebih panjang, sehingga pasar mulai melakukan aksi ambil untung.

Kendati demikian, belanja modal di seluruh ekosistem AI, mulai dari sektor energi hingga infrastruktur teknologi, masih terus berlangsung.

Di sisi lain, sektor kebutuhan pokok konsumen memberikan sentimen positif dengan kenaikan 2,1%.

Sektor kesehatan juga menguat sekitar 2% setelah saham UnitedHealth Group melonjak 7,8% pasca kenaikan proyeksi laba perusahaan.

Investor saat ini juga tengah mencermati dinamika ekonomi makro Amerika Serikat.

Data penjualan ritel bulan Juni tercatat hanya naik tipis, yang utamanya dipicu oleh penurunan harga bahan bakar kendaraan.

Kepala Ekonom Fifth Third Commercial Bank, Bill Adams, menilai melambatnya penjualan ritel justru menjadi sinyal positif bagi PDB riil kuartal II.

Selain itu, klaim tunjangan pengangguran baru di AS turun menjadi 208.000 pada pekan yang berakhir 11 Juli, melampaui estimasi para ekonom.

Laporan inflasi yang lebih rendah dari perkiraan awal pekan ini memperkuat spekulasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang The Fed menahan suku bunga pada pertemuan bulan ini berada di kisaran 88%.

Pasar juga memantau eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak mentah.

Kenaikan harga bahan bakar ini menekan saham maskapai penerbangan, seperti United Airlines yang turun 2,8% akibat kekhawatiran kenaikan biaya operasional.

GE Aerospace juga terkoreksi 4,4% meskipun perusahaan telah merevisi naik proyeksi laba tahun 2026.