NEW YORK – Wall Street mencatatkan kenaikan moderat pada perdagangan awal pekan ini. Investor merespons positif peluncuran chip kecerdasan buatan (AI) terbaru untuk komputer pribadi, di tengah upaya pasar memantau perkembangan negosiasi perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran.
Pada penutupan perdagangan Senin (1/6/2026), indeks Dow Jones Industrial Average naik 46,42 poin atau 0,09% ke level 51.078,88. Indeks S&P 500 menguat 19,90 poin atau 0,26% ke 7.599,96, sementara indeks Nasdaq Composite melonjak 114,19 poin atau 0,42% menjadi 27.086,81.
Sektor teknologi menjadi motor penggerak utama dengan kenaikan 2,5%. Kinerja ini berhasil membawa indeks Nasdaq dan S&P 500 kembali mencetak rekor penutupan tertinggi. Sebaliknya, sektor utilitas mencatatkan penurunan terdalam di antara 11 sektor utama S&P 500.
Sentimen pasar sempat terpengaruh oleh tensi geopolitik terkait konflik di Iran. Harga minyak mentah sempat melonjak di tengah kekhawatiran bahwa perang yang berkepanjangan dapat memicu inflasi. Namun, optimisme kembali muncul setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan pembicaraan dengan Iran terus berlanjut. Pernyataan Trump mengenai tidak adanya pasukan Israel yang akan memasuki Beirut juga memberikan sentimen positif bagi investor.
Saham Nvidia menjadi sorotan utama setelah meluncurkan chip baru hasil kolaborasi tiga tahun dengan Microsoft. Inovasi ini diklaim mampu membawa kemampuan AI langsung ke dalam PC. Berkat kabar tersebut, saham Nvidia melonjak 6,3% dan saham Microsoft naik 2,3%.
Di sisi lain, pergerakan saham semikonduktor cenderung beragam. Saham Qualcomm terkoreksi 8,8% dan Intel turun 4,7%. Namun, saham Micron mencatatkan rekor baru dengan menembus harga US$ 1.000 setelah naik 6,6%. Secara keseluruhan, Indeks Semikonduktor SE Philadelphia berhasil menguat 1,1%.
Sektor perangkat lunak juga menunjukkan pemulihan signifikan. Saham ServiceNow dan IBM masing-masing melesat 9,2% dan 7,6%, didorong oleh optimisme bahwa teknologi AI akan menjadi bagian krusial dari solusi bisnis masa depan.
Dari data ekonomi, aktivitas pabrik di AS tercatat meningkat pada Mei selama lima bulan berturut-turut, meski produsen masih menghadapi tantangan tarif dan geopolitik. Kini, pelaku pasar menanti laporan data ketenagakerjaan pada Jumat (5/6/2026) mendatang. Data ini menjadi krusial menjelang pertemuan kebijakan Federal Reserve di bawah pimpinan baru, Kevin Warsh, guna memantau risiko inflasi yang dapat mengganggu reli pasar saham.







