WASHINGTON – Rencana penawaran umum perdana (IPO) SpaceX dengan valuasi fantastis sebesar 1,75 triliun dolar AS atau setara Rp 30.170 triliun tengah menjadi sorotan tajam. Proses melantai di bursa ini membuka tabir mengenai praktik keuangan internal SpaceX yang selama dua dekade terakhir diduga berfungsi sebagai “celengan” pribadi bagi Elon Musk dan jaringan bisnisnya.
Investigasi berdasarkan dokumen internal dan catatan hukum mengungkapkan bahwa SpaceX kerap digunakan sebagai instrumen finansial untuk menopang entitas lain di bawah kendali Musk, seperti Tesla, SolarCity, hingga xAI. Praktik ini mencakup pemberian pinjaman pribadi berbunga rendah hingga aksi penyelamatan perusahaan afiliasi yang sedang terjerat masalah keuangan.
Data menunjukkan bahwa pada periode 2018 hingga 2021, Musk tercatat meminjam dana dari SpaceX hingga 500 juta dolar AS atau Rp 8,62 triliun. Menariknya, suku bunga pinjaman tersebut sangat rendah, yakni berkisar antara 1 hingga 3 persen, jauh di bawah suku bunga perbankan yang saat itu mencapai 5 persen. Meski pinjaman tersebut telah dilunasi, para ahli hukum menilai praktik ini sarat dengan konflik kepentingan yang berisiko tinggi bagi calon investor.
Pola keterkaitan finansial ini bukan hal baru. Sebelumnya, SpaceX terbukti pernah menyuntikkan dana sebesar 20 juta dolar AS untuk membantu Tesla saat krisis keuangan 2008. Tak hanya itu, SpaceX juga pernah membeli utang berisiko tinggi milik SolarCity senilai 255 juta dolar AS pada 2015, meski langkah tersebut dinilai bertentangan dengan aturan internal perusahaan.
Tindakan ini sempat memicu konsekuensi hukum, termasuk gugatan investor terkait akuisisi SolarCity oleh Tesla. Meskipun pengadilan memenangkan Musk, hakim menyoroti bahwa keterlibatan Musk telah melampaui batas kewajiban fidusia yang seharusnya diutamakan demi kepentingan perusahaan.
Kini, fokus SpaceX bergeser ke ekspansi ambisius di sektor kecerdasan buatan (AI) melalui xAI. Divisi ini dilaporkan menyerap 61 persen belanja modal perusahaan pada 2025 dengan catatan kerugian operasional mencapai 6,4 miliar dolar AS atau Rp 110,3 triliun. Analis menilai profil keuangan SpaceX saat ini lebih menyerupai perusahaan roket dan satelit, namun sedang dipaksa bertransformasi menjadi raksasa infrastruktur AI.
Terkait tata kelola setelah IPO, SpaceX berencana mempertahankan status sebagai perusahaan terkendali. Struktur ini memberikan keleluasaan bagi Musk untuk mengendalikan dewan direksi tanpa dominasi pihak independen. Kondisi ini dikhawatirkan dapat membatasi pengawasan terhadap kebijakan kompensasi dan transaksi afiliasi di masa depan.
Dengan beban utang mencapai 20 miliar dolar AS serta kebutuhan pendanaan masif untuk proyek AI, IPO SpaceX akan menjadi ujian besar. Para investor kini dihadapkan pada tantangan untuk menilai tidak hanya kinerja operasional perusahaan, tetapi juga risiko dari struktur keuangan yang kompleks dan ketergantungan yang kuat pada figur tunggal, Elon Musk.







