Bursa Saham

Strategi Emiten Batubara Beralih ke Energi Hijau dan Rekomendasi Sahamnya

87
×

Strategi Emiten Batubara Beralih ke Energi Hijau dan Rekomendasi Sahamnya

Sebarkan artikel ini
Pekerja tambang batubara di lokasi pertambangan terbuka dengan latar belakang alat berat dan tumpukan batubara
Sejumlah emiten batubara di Indonesia mulai melakukan diversifikasi bisnis ke sektor energi bersih untuk menghadapi transisi energi global.

JAKARTA – Sejumlah emiten pertambangan batubara di Indonesia semakin gencar melakukan diversifikasi bisnis ke sektor energi bersih dan energi baru terbarukan (EBT). Langkah strategis ini diambil sebagai upaya mitigasi risiko bisnis jangka panjang di tengah transisi energi global.

PT Indika Energy Tbk (INDY) menjadi salah satu perusahaan yang disorot pasar karena diisukan sedang mempertimbangkan divestasi anak usahanya, PT Kideco Jaya Agung. Valuasi aset tambang tersebut diperkirakan mencapai lebih dari US$ 1 miliar atau sekitar Rp 18,1 triliun.

Proses pembahasan divestasi tersebut dikabarkan masih berlangsung hingga saat ini. Meskipun demikian, pihak manajemen INDY belum memberikan keterangan resmi terkait kelanjutan rencana penjualan aset batubara tersebut.

INDY sendiri telah lama merambah sektor energi hijau melalui pengembangan ekosistem kendaraan listrik. Perusahaan ini mengelola merek motor listrik ALVA, layanan kendaraan komersial Kalista, serta penyediaan armada bus dan truk listrik melalui INVI.

Selain INDY, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) juga aktif memperluas portofolio di sektor EBT. Perusahaan ini tengah mengembangkan tiga proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) dengan total kapasitas 140 megawatt yang ditargetkan beroperasi pada 2029.

DSSA juga telah membangun pabrik panel surya terintegrasi di Jawa Tengah dengan kapasitas produksi mencapai 1 hingga 2 gigawatt peak per tahun. Langkah serupa ditempuh oleh PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) yang berekspansi ke sektor pembangkit listrik tenaga air dan surya.

ADRO bahkan telah melakukan pemisahan unit bisnis (spin-off) batubara termal ke entitas baru, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI). Sementara itu, PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) telah melepas aset pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) pada 2025 untuk fokus pada bisnis pengelolaan limbah dan kendaraan listrik.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai diversifikasi ini bukan berarti batubara kehilangan nilai ekonomisnya. Batubara saat ini masih menjadi tulang punggung arus kas yang kuat bagi perusahaan berbiaya rendah.

Namun, ketergantungan pada satu komoditas dinilai meningkatkan risiko bisnis di masa depan. Faktor pendorong utama transisi ini meliputi ketatnya regulasi lingkungan serta terbatasnya akses pendanaan perbankan bagi proyek energi fosil.

Pengamat Pasar Modal, Kiswoyo Adi Joe, menambahkan bahwa diversifikasi dilakukan agar emiten tetap mendapatkan kepercayaan dari investor global yang menerapkan standar ESG. Strategi ini dilakukan secara bertahap agar arus kas perusahaan tetap terjaga.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, mengingatkan bahwa investasi EBT membutuhkan biaya besar dan waktu yang panjang. Divestasi aset batubara yang dilakukan terlalu dini berisiko menciptakan celah pendanaan bagi perusahaan.

Untuk menjaga keberlangsungan, emiten disarankan tetap mempertahankan aset batubara berkualitas tinggi selama masa transisi. Selain itu, emiten perlu mencari sumber pendanaan hijau yang lebih efisien untuk membiayai proyek EBT di masa depan.