Tutup
BisnisPerbankan

Ultramikro Berdayakan Warga, Tekan Kemiskinan Lewat Pendanaan Aktif

245
×

Ultramikro Berdayakan Warga, Tekan Kemiskinan Lewat Pendanaan Aktif

Sebarkan artikel ini
pembiayaan-ultramikro-dinilai-jadi-senjata-baru-perangi-kemiskinan
Pembiayaan Ultramikro Dinilai Jadi Senjata Baru Perangi Kemiskinan

Jakarta – Pemerintah didorong untuk memperkuat program pembiayaan ultramikro (UMi) sebagai strategi utama dalam menekan angka kemiskinan. Program ini menjadi prioritas utama kabinet Merah Putih di bawah kepemimpinan presiden Prabowo Subianto.

Chief Economist The Indonesia Economic Intelligence (IEI), Sunarsip, menekankan pentingnya UMi dalam menjangkau masyarakat yang selama ini kesulitan mengakses perbankan konvensional.

Menurutnya, lembaga pembiayaan ultramikro fokus pada segmen masyarakat unbankable yang seringkali menjadi target rentenir.

PT Permodalan nasional Madani (PNM), misalnya, tidak hanya menyalurkan kredit, tetapi juga menjalankan misi pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat kelas bawah.

“Terbukti, banyak pelaku ekonomi dari kelompok masyarakat miskin yang kini berhasil ‘mentas’,” ujar Sunarsip.

Sunarsip mendorong agar lembaga seperti PNM memiliki skala pembiayaan yang lebih besar.

“Perannya sebagai lembaga pembiayaan ultra mikro yang fokus pada pemberdayaan tetap perlu dan harus dipertahankan. Namun, size-nya harus dinaikkan,” tegasnya.

Wakil Direktur Institute for Growth of Economics and Finance (Indef), Eko Listiyanto, sependapat bahwa pembiayaan ultramikro dapat menjadi solusi untuk mendorong perbaikan ekonomi masyarakat kalangan bawah.

Namun, ia menekankan perlunya dukungan kebijakan makro pemerintah, mengingat plafon kredit ultramikro disesuaikan dengan kemampuan bayar peminjam.

“Kredit ultramikro penting untuk akses mereka yang berada di ekonomi bawah dan belum bankable,” kata Eko. “Ini sekaligus mendidik mereka lebih bisa mengelola keuangan seiring pertumbuhan usaha mikronya.”

Presiden Prabowo Subianto sendiri telah berulang kali menegaskan komitmennya untuk memutus rantai kemiskinan melalui pendekatan holistik.

Pemerintah telah menyiapkan berbagai kebijakan dan program, termasuk Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), Makan Bergizi Gratis (MBG), pembentukan Koperasi Merah Putih, pembangunan Sekolah Rakyat, program renovasi rumah, dan fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).

Konsep pembiayaan ultramikro bukan hal baru. BRAC dan Grameen Bank dari Bangladesh telah membuktikan efektivitasnya dalam menekan kemiskinan global.

BRAC, yang berdiri sejak 1972, kini memiliki 11 juta nasabah. Grameen Bank, didirikan oleh peraih Nobel Perdamaian 2006, Dr. muhammad Yunus,melayani 10,77 juta nasabah,dengan 98% di antaranya adalah perempuan.

Di Indonesia, PT PNM menjadi pionir pembiayaan ultramikro melalui program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar) sejak 2016.

PNM tergabung dalam holding ultramikro yang dibentuk pada September 2021, dengan BRI sebagai induk dan PT Pegadaian sebagai anggota.

Hingga semester pertama 2025, sekitar 22,4 juta nasabah di 6.165 kecamatan di Indonesia menikmati pembiayaan ultramikro dari PNM. seluruh penerima adalah perempuan.

Selama 2025, PNM menargetkan 16 juta nasabah aktif Mekaar. Pada 2024, jumlah pembiayaan Mekaar secara konsolidasi mencapai Rp73,93 triliun.

“Nasabah kami berasal dari kelompok ekonomi desil I sampai desil III. Yang masuk kemiskinan ekstrem sekitar 6 juta nasabah,” ujar Dirut PNM Arief Mulyadi. “Jadi PNM dari sejak digagas dan dilahirkan sejalan dengan upaya pemerintah menekan angka kemiskinan.”

Selain PNM, terdapat badan usaha swasta sejenis seperti BTPN Syariah, Amartha, dan PT Mitra Bisnis Keluarga Ventura (MBK) yang memiliki nasabah di atas 1 juta orang.