Tutup
Regulasi

Valas Asia Bervariasi: Geopolitik dan Bank Sentral Pengaruhi Pasar

185
×

Valas Asia Bervariasi: Geopolitik dan Bank Sentral Pengaruhi Pasar

Sebarkan artikel ini

Jakarta – Pergerakan nilai tukar mata uang Asia terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan dinamika yang bervariasi. Sejumlah mata uang menguat, sementara sebagian lainnya masih tertekan oleh dominasi dolar AS.

Rupiah mencatatkan penguatan tipis 0,14% ke level Rp 16.741 per dolar AS pada perdagangan terakhir. Penguatan juga dirasakan oleh ringgit Malaysia yang naik 0,42% menjadi 4,047 per dolar AS.

Mata uang lainnya yang menguat meliputi yuan China onshore (0,13% ke 7,006 per dolar AS), yuan offshore (0,09% ke 7,001 per dolar AS), dan dolar Hong Kong (0,01% ke 7,774 per dolar AS).

Namun, tidak semua mata uang Asia bernasib baik. Won Korea Selatan melemah 0,19% menjadi 1.446,7 per dolar AS, diikuti peso Filipina yang turun 0,16% ke 58,83 per dolar AS.

Rupee India terkoreksi 0,14% menjadi 89,78, baht Thailand turun 0,08% ke 31,10, dan yen Jepang melemah 0,03% ke 155,98 per dolar AS. Dolar Singapura juga mengalami pelemahan tipis 0,02% menjadi 1,2837 per dolar AS.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, memprediksi pergerakan valas Asia hingga awal 2026 akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan bank sentral utama dan faktor geopolitik global.

Setiap mata uang memiliki fundamental yang berbeda. Hal ini mencakup harapan terhadap permintaan semikonduktor di Korea Selatan, dinamika kebijakan moneter Jepang, prospek suku bunga Bank Indonesia, dan inflasi Singapura yang berpotensi mendorong langkah Otoritas Moneter Singapura (MAS).

Presiden Komisioner HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, menambahkan bahwa normalisasi kebijakan The Fed, arah kebijakan Bank of Japan, serta isu perdagangan global akan menjadi faktor penentu utama.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi, berpendapat bahwa pergerakan rupiah akan dipengaruhi oleh proyeksi ketahanan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 yang didukung oleh konsumsi rumah tangga dan investasi.

“Pergeseran ini menandai transisi ekonomi Indonesia dari sekadar menjaga momentum pertumbuhan menuju penguatan kualitas dan keberlanjutan pertumbuhan dalam jangka menengah hingga panjang,” ujar Ibrahim.

Lukman memproyeksikan USD/JPY akan bergerak di kisaran 150–160, USD/KRW 1.500–1.550, USD/SGD 1,2800–1,2950, dan USD/IDR Rp 16.300 – Rp 17.300 hingga awal 2026.

Sementara itu, Sutopo memproyeksikan USD/JPY di kisaran 150–152, USD/SGD 1,2800–1,3100, USD/KRW 1.410–1.430, serta USD/IDR di rentang Rp 16.600 – Rp 16.900.

Regulasi

Meskipun IHSG terkoreksi tajam 13,8% YTD per April 2026 akibat tensi geopolitik Selat Hormuz dan guncangan MSCI, fundamental pasar modal Indonesia tetap kokoh. Penurunan harga ini justru menjadi momentum bagi investor domestik yang jumlahnya melonjak drastis hingga 20,32 juta SID. Ketahanan pasar tercermin dari rata-rata transaksi harian yang tetap…