NEW YORK – Investor di pasar saham Amerika Serikat (AS) bersiap mengalihkan fokus pada data tenaga kerja yang akan dirilis pekan depan. Data ini krusial untuk menentukan apakah inflasi yang terus memanas dan potensi kenaikan suku bunga akan menghentikan reli pasar saham yang tengah berlangsung.
Sepanjang pekan ini, indeks ekuitas AS mencatatkan kinerja positif. Indeks S&P 500 berhasil mencatatkan kenaikan selama sembilan minggu berturut-turut, dengan akumulasi penguatan lebih dari 10% sepanjang tahun ini. Sementara itu, indeks Nasdaq Composite telah melesat 16%.
Saham sektor teknologi menjadi motor penggerak utama di balik kebangkitan pasar. Optimisme investor terhadap potensi keuntungan dari kecerdasan buatan (*artificial intelligence*/AI) berhasil memulihkan harga saham setelah sempat tertekan hebat pada Maret lalu.
“Para investor melihat nilai yang sudah pulih dalam kelompok saham ini. Mereka yakin pendapatan perusahaan masih tumbuh pesat, sehingga memutuskan untuk melakukan akumulasi beli,” ujar CEO Horizon Investment Services, Chuck Carlson.
Selain sentimen AI, pasar juga merespons positif meredanya tensi perang Iran yang telah berlangsung selama tiga bulan. Meski demikian, pergerakan harga aset tetap dibayangi perkembangan konflik tersebut.
Fokus utama pasar kini tertuju pada laporan ketenagakerjaan bulanan yang dijadwalkan terbit pada 5 Juni mendatang. Laporan ini menjadi krusial di tengah kekhawatiran meningkatnya inflasi yang dapat memaksa Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga.
Data terakhir menunjukkan Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) melonjak 3,8% dalam 12 bulan hingga April. Ini merupakan kenaikan tertinggi sejak Mei 2023, yang dipicu oleh tingginya harga energi akibat konflik di Iran.
“Jika laporan ketenagakerjaan menunjukkan hasil yang kuat di tengah angka inflasi yang terus mendaki, prospek kebijakan The Fed tentu akan berubah,” kata Kepala Strategi Investasi Schwab Center for Financial Research, Liz Ann Sonders.
Sebaliknya, jika data tenaga kerja berada di bawah ekspektasi, kekhawatiran mengenai pengetatan kebijakan moneter oleh The Fed mungkin akan mereda. Para analis memprediksi tingkat pengangguran berada di level 4,3% dengan tambahan 85.000 lapangan kerja baru.
Namun, penambahan lebih dari 150.000 lapangan kerja justru bisa menjadi bumerang bagi pasar saham. Kondisi ekonomi yang dianggap “terlalu panas” dapat mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS naik, yang pada akhirnya membebani bursa saham.
Di sisi lain, investor juga tengah menanti laporan keuangan kuartalan dari raksasa semikonduktor, Broadcom, yang akan diumumkan pada Rabu mendatang. Mengingat peran pentingnya dalam infrastruktur AI, kinerja perusahaan ini diprediksi akan memberikan efek signifikan terhadap pergerakan Wall Street.
Sejak titik terendah pada 30 Maret, Indeks Semikonduktor Philadelphia SE telah melonjak sekitar 80%. Saham Broadcom sendiri tercatat naik lebih dari 50% dalam periode tersebut.
Data manufaktur dan jasa yang akan rilis pekan depan juga menjadi sorotan. Seluruh data tersebut akan menjadi bahan pertimbangan bagi The Fed dalam pertemuan kebijakan mereka pada 16-17 Juni mendatang.
Risiko kenaikan biaya pinjaman bagi konsumen maupun bisnis akibat suku bunga yang lebih tinggi kini menjadi perhatian utama pelaku pasar. Kenaikan imbal hasil obligasi 10 tahun yang berada di kisaran 4,45% terus dipantau, karena berpotensi menciptakan persaingan investasi yang lebih ketat dengan pasar saham.







