Jakarta – Operator jaringan ritel 7-Eleven berencana menutup 645 gerai di Amerika Utara sepanjang tahun ini. Langkah strategis ini diambil perusahaan di tengah rencana pembukaan gerai baru yang hanya berjumlah 205 lokasi.
Berdasarkan laporan keuangan Seven & i Holdings Co., induk perusahaan 7-Eleven yang berbasis di Jepang, penutupan tersebut mencakup konversi sejumlah gerai menjadi toko bahan bakar grosir. hingga Desember 2025, perusahaan tercatat telah mengoperasikan lebih dari 900 lokasi toko bahan bakar grosir di Amerika Utara.
Hingga saat ini, pihak perusahaan belum memberikan penjelasan rinci mengenai lokasi mana saja yang akan terdampak penutupan tersebut.
Secara global, jaringan 7-Eleven mengelola lebih dari 86 ribu gerai di 19 negara. Khusus untuk 7-Eleven Inc.yang berbasis di Texas, operator ini mengawasi lebih dari 13 ribu lokasi di Amerika Serikat dan Kanada.
Keputusan penutupan ratusan toko ini dipicu oleh tekanan inflasi serta kenaikan harga bensin akibat konflik geopolitik yang mengguncang pasar energi. Kondisi ekonomi tersebut berdampak langsung pada penurunan daya beli masyarakat, terutama pada rumah tangga berpenghasilan rendah.
Di sisi lain, ekspansi 7-Eleven di luar Amerika utara masih terus berjalan.Di Jepang, perusahaan berencana menutup 350 toko, namun akan membuka 550 lokasi baru.
Akibat kondisi pasar saat ini, Seven & i memproyeksikan pendapatan tahun ini akan turun 9,4 persen menjadi sekitar 9,45 triliun yen atau setara US$59,5 miliar (sekitar Rp1.019 triliun).
Menghadapi tantangan tersebut,perusahaan kini fokus melakukan transformasi bisnis di bawah kepemimpinan CEO baru,Stephen Hayes Dacus. Strategi yang dijalankan meliputi penguatan penawaran makanan segar serta perluasan layanan pengiriman.







