Jakarta – Saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) dinilai masih memiliki daya tarik investasi seiring dengan tren kenaikan harga ayam hidup.
Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Paulina Margaret, mempertahankan rekomendasi “beli” untuk saham JPFA, dengan target harga baru Rp 3.200.
Target ini naik 15% dari proyeksi sebelumnya, dengan asumsi Price Earning Ratio (PER) tahun 2026 sebesar 8,2 kali.
Pada perdagangan Senin (22/12/2025), harga saham JPFA terkoreksi 1,85% ke level Rp 2.650 per saham.
Menurut Paulina, prospek positif JPFA didorong oleh dua faktor utama. Pertama, harga ayam hidup yang lebih kuat setelah pemangkasan kuota Grand Parent Stock (GPS) tahun 2024. Kedua, potensi peningkatan permintaan akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG).
JPFA sendiri telah menaikkan estimasi laba per saham (EPS) untuk tahun 2025 hingga 2027 sebesar 4%–8%, sejalan dengan prospek harga ayam yang lebih tinggi.
Paulina menekankan bahwa JPFA merupakan pilihan utama di sektor unggas, dengan valuasi yang menarik, yakni PER tahun 2026 sebesar 6,9 kali. Angka ini lebih rendah dibandingkan pesaingnya, CPIN, yang mencapai 16,2 kali.
Selain itu, JPFA juga menawarkan potensi imbal hasil dividen yang lebih tinggi, yaitu 5,8%, dibandingkan CPIN yang hanya 3,2%.
Meskipun demikian, Paulina mengingatkan investor tentang risiko utama, yaitu potensi kenaikan biaya input yang lebih tinggi dari perkiraan dan harga ayam hidup yang lebih rendah dari ekspektasi.
Harga ayam hidup secara nasional terpantau stabil di Rp 24.853 per kg pada 15 Desember 2025, didukung oleh pengurangan kuota GPS tahun 2024 menjadi 530.000 ekor, atau turun 21% secara tahunan.
Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR) memperkirakan harga ayam hidup akan tetap di atas Rp 21.000/kg hingga akhir tahun, berkat kuota GPS yang lebih ketat dan dukungan permintaan dari program MBG.
Kuota GPS tahun 2025 telah dinaikkan menjadi 560.000 ekor untuk mengantisipasi lonjakan permintaan dari program MBG. Akibatnya, proyeksi penjualan bersih JPFA untuk tahun 2025 hingga 2027 direvisi naik sebesar 2%–4%.
Program MBG, dengan 17.500 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang beroperasi saat ini, diperkirakan akan meningkatkan permintaan unggas sebesar 18% secara tahunan pada tahun 2026.
Peningkatan ini berpotensi mencapai 36% jika 35.000 SPPG terealisasi penuh. Alokasi anggaran negara sebesar Rp 335 triliun untuk MBG di tahun 2026 menunjukkan komitmen pemerintah yang kuat terhadap program ini, menjadikannya katalis penting bagi sektor unggas.
Inisiatif produk konsumen JPFA juga dinilai memperkuat kualitas laba perusahaan. Perusahaan berfokus pada penetrasi produk yang lebih dalam, jangkauan distribusi yang lebih luas, serta eksekusi branding dan go-to-market yang lebih ketat.
Kontribusi produk konsumen diperkirakan mencapai sekitar 17% dari total penjualan JPFA pada tahun 2026, dan terus tumbuh di atas 20% secara tahunan. Segmen ini diharapkan dapat menstabilkan margin dan arus kas JPFA, sekaligus memperkuat posisi kompetitif perusahaan di kategori nilai tambah hilir.
Hingga akhir tahun 2025, pendapatan dan laba bersih JPFA diperkirakan mencapai Rp 65,33 triliun dan Rp 3,63 triliun. Sementara di tahun 2026, pendapatan diproyeksikan mencapai Rp 79,81 triliun dengan laba bersih Rp 4,69 triliun.







