Tutup
EkonomiFintechNews

LPEM FEB UI Nilai Pindar Bantu Tekan Ekonomi Warga

74
×

LPEM FEB UI Nilai Pindar Bantu Tekan Ekonomi Warga

Sebarkan artikel ini
lpem-feb-ui:-pindar-jadi-bantalan-warga-ri-hadapi-tekanan-ekonomi
LPEM FEB UI: Pindar Jadi Bantalan Warga RI Hadapi Tekanan Ekonomi

jakarta – Keberadaan pinjaman daring (pindar) di masyarakat ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi, layanan pembiayaan ini kerap dipandang sebagai jebakan finansial karena bunga yang tinggi. Namun di sisi lain, pindar dinilai berperan penting sebagai bantalan ekonomi yang membantu masyarakat bertahan di tengah tekanan.

Pindar atau yang lebih dikenal sebagai pinjaman online (pinjol) menawarkan pencairan dana yang cepat dan syarat administrasi yang lebih mudah dibandingkan bank konvensional. Meski begitu, debitur kerap menghadapi bunga yang relatif tinggi sehingga tidak sedikit pengguna terjebak dalam siklus utang yang justru memperburuk kondisi keuangan.

Riset Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) mengungkapkan,pindar dapat berfungsi sebagai bantalan ekonomi bagi masyarakat dalam menghadapi tekanan ekonomi. Dalam penelitian ini, LPEM FEB UI mengkaji AdaKami sebagai studi kasus untuk menelaah peran pindar.

studi tersebut menunjukkan, pindar berperan sebagai bantalan keuangan yang membantu masyarakat mengelola risiko keuangan dan menjaga konsumsi rumah tangga. Akses pembiayaan digital membantu rumah tangga mempertahankan konsumsi, mengelola risiko keuangan, serta menghindari penjualan aset produktif di tengah kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian.

Terjaganya konsumsi rumah tangga sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi nasional, dengan kontribusi lebih dari 54 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), dinilai memberi efek positif terhadap perekonomian Indonesia.

Peneliti LPEM FEB UI, Prani Sastiono, menyampaikan terdapat 24,51 persen peminjam AdaKami yang menyatakan tanpa pinjaman mereka harus menggunakan tabungan atau menjual aset untuk memenuhi kebutuhan. Pinjaman ini juga dimanfaatkan untuk menghadapi guncangan ekonomi akibat PHK, sakit keras, maupun wafatnya anggota keluarga dengan tetap melakukan pengelolaan risiko secara bijak.

“Dengan pengelolaan risiko yang lebih baik,maka rumah tangga yang menghadapi pengeluaran tidak terduga tidak harus meminjam pada rentenir atau sumber lain dengan bunga lebih tinggi dan bisa menjaga kestabilan tabungan,” ujar Prani Sastiono dikutip dari keterangan tertulis,Jumat,1 Mei 2026.

Ia menambahkan,pindar kerap dimanfaatkan untuk menghadapi guncangan ekonomi seperti pemutusan hubungan kerja (PHK),sakit keras,hingga wafatnya anggota keluarga. Akses pembiayaan ini juga dinilai membantu masyarakat menghindari keputusan ekstrem yang dapat berdampak jangka panjang.

“Misalnya, kalau seniman harus menjual alat musiknya atau misalnya fotografer harus menjual kameranya. Dengan adanya pinjaman, mereka bisa menghindari risiko penurunan kualitas hidup jangka panjang,” tandasnya.