Tutup
EkonomiPerbankan

BI Perketat Pembelian Dolar Tanpa Underlying Jadi US$25 Ribu

92
×

BI Perketat Pembelian Dolar Tanpa Underlying Jadi US$25 Ribu

Sebarkan artikel ini
rupiah-rp17.400,-bi-perketat-beli-dolar-maksimal-us$25-ribu-per-bulan
Rupiah Rp17.400, BI Perketat Beli Dolar Maksimal US$25 Ribu per Bulan

Jakarta – Bank Indonesia menyiapkan langkah lanjutan untuk membatasi pembelian dolar Amerika Serikat di pasar domestik tanpa dokumen pendukung, di tengah tekanan yang terus membebani rupiah. Setelah ambang transaksi dipangkas dari US$100 ribu menjadi US$50 ribu per orang per bulan, bank sentral kini mempertimbangkan penurunan batas lagi menjadi US$25 ribu.

Gubernur BI perry Warjiyo mengatakan kebijakan itu disusun untuk menjaga stabilitas nilai tukar di tengah gejolak pasar keuangan global. Ia menyampaikan hal tersebut dalam konferensi pers di Istana Kepresidenan,Jakarta Pusat,Selasa (5/5).

“Yang tadi pembatasan pembelian dolar yang sudah kami turunkan dari US$100 ribu menjadi US$50 ribu, kami persiapkan kami akan turunkan lagi menjadi US$25 ribu sehingga pembelian dolar sampai dengan atau di atas US$25 ribu itu harus pakai underlying,” kata Perry.

Dengan skema baru ini, pembelian valas sebesar US$25 ribu atau lebih per bulan akan wajib disertai dokumen pendukung.BI menyebut dokumen itu bisa berupa bukti kebutuhan impor, pembayaran utang, biaya pendidikan, pengobatan, atau transaksi bisnis lain yang sah.

Kebijakan tersebut merupakan kelanjutan dari pengetatan yang baru diberlakukan BI pada April 2026. Saat itu, batas transaksi tanpa underlying sudah diturunkan dari US$100 ribu menjadi US$50 ribu per orang per bulan untuk meredam tekanan terhadap rupiah.

Perry mengatakan langkah itu sudah dikonsultasikan dengan Komite Stabilitas Sistem keuangan (KSSK). Menurut dia, pembatasan transaksi valas tanpa underlying bertujuan memperkuat suplai dolar di dalam negeri sekaligus menahan pembelian yang bersifat spekulatif.

“Kami sudah keluarkan adalah pembatasan pembelian dolar di pasar domestik tanpa underlying. yang dulunya US$100 ribu dolar per orang per bulan, kita turunkan US$50 ribu dolar per orang per bulan. Itu yang kami langsung koordinasi dengan KSSK untuk penguatan-penguatan,” ujarnya.

Di saat yang sama, BI juga mendorong diversifikasi transaksi valas melalui penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan internasional. Perry menyebut pasar yuan China terhadap rupiah kini semakin berkembang, seiring makin luasnya penerapan local currency settlement antara Indonesia dan China.

“Termasuk di dalam negeri itu adalah pasar yuan, Chinese yuan dengan rupiah sudah berkembang di dalam negeri karena local currency kita dengan China sama yuan China sama rupiah itu sangat tinggi,” kata dia.

ia menilai penguatan pasar yuan-rupiah dapat mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS. Menurut Perry, semakin banyak pilihan mata uang dalam transaksi akan membantu menekan tekanan permintaan valuta asing.

“Sehingga itu mengurangi atau melakukan diversifikasi dari dolar sehingga itu bisa memperkuat,” lanjutnya.

Rencana pengetatan ini muncul ketika rupiah kembali melemah. Pada perdagangan Selasa sore,mata uang Garuda ditutup di level Rp17.424 per dolar AS, salah satu posisi terlemah dalam perdagangan modern.