Tutup
Regulasi

Analisis Prospek Pasar Saham dan Tren IPO di Tengah Kondisi Lesu

106
×

Analisis Prospek Pasar Saham dan Tren IPO di Tengah Kondisi Lesu

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Pasar saham Indonesia menunjukkan tanda-tanda kelesuan menjelang pertengahan tahun 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan koreksi tajam, seiring dengan melambatnya aktivitas penawaran umum perdana saham atau *Initial Public Offering* (IPO).

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, hingga 22 Mei 2026, baru satu perusahaan yang resmi melantai, yakni PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) dengan raihan dana sebesar Rp0,30 triliun. Saat ini, terdapat 15 perusahaan dalam daftar tunggu (*pipeline*), yang terdiri dari 4 perusahaan skala menengah dan 11 perusahaan skala besar. Meski kondisi pasar menantang, BEI tetap mempertahankan target IPO sebanyak 50 perusahaan sepanjang tahun 2026.

Tren IPO terus menunjukkan penurunan dalam tiga tahun terakhir. Sebagai perbandingan, terdapat 26 emiten baru pada 2025, 41 emiten pada 2024, dan 79 emiten pada 2023.

Direktur Utama Infovesta Utama, Parto Karwito, menilai penurunan ini dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari penilaian MSCI, ketegangan geopolitik, hingga dinamika makro ekonomi. Selain itu, regulator dinilai semakin memperketat syarat IPO. “Investor saat ini lebih terbatas pilihannya karena hanya bisa masuk ke pasar sekunder yang sedang terkoreksi,” ujarnya.

Senada dengan hal tersebut, *Head of Research & Chief Economist* Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengungkapkan bahwa pasar saat ini jauh lebih selektif. Masalah utamanya bukan sekadar jumlah calon emiten, melainkan adanya ketidaksesuaian (*mismatch*) antara ekspektasi valuasi perusahaan dengan selera investor yang semakin berhati-hati.

Pengamat Pasar Modal, Edwin Sebayang, menambahkan bahwa lesunya IPO juga disebabkan oleh berubahnya perilaku investor. Banyak perusahaan yang semula berharap IPO sebagai ajang pencarian modal dengan valuasi premium kini terpaksa menunda langkah tersebut karena investor publik tidak lagi bersedia membayar mahal hanya untuk “narasi” tanpa fundamental yang kuat.

“Investor mulai membedakan antara saham untuk *trading* jangka pendek dan investasi jangka panjang. Banyak IPO belakangan ini memiliki *free float* kecil dan likuiditas tipis, sehingga harganya mudah digerakkan,” jelas Edwin.

Terkait kabar IPO perusahaan besar seperti RANS Entertainment dan Taman Safari, para ahli mengingatkan bahwa nama besar bukan jaminan kinerja saham yang baik. Investor kini lebih fokus pada keberlanjutan pendapatan, kualitas EBITDA, dan arus kas perusahaan.

Para pakar menyarankan BEI untuk lebih mengedepankan kualitas emiten dibandingkan mengejar target kuantitas. Transparansi terkait alokasi saham, praktik *nominee*, dan pengawasan *free float* menjadi kunci utama untuk mengembalikan kepercayaan pasar.

Bagi investor, disarankan untuk tidak tergiur dengan euforia sesaat. Langkah bijak saat ini adalah mencermati valuasi secara mendalam dan tidak terburu-buru membeli saham IPO hanya karena popularitas. Seringkali, waktu terbaik untuk masuk ke saham emiten baru adalah 6 hingga 12 bulan setelah *listing*, saat euforia pasar telah mereda dan valuasi kembali ke level yang rasional.

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Sejak beberapa bulan kemarin, regulator sudah menetapkan kebijakan baru mengenai batas saham beredar bebas alias free float menjadi minimum 15%. Menjelang tenggat waktu kebijakan ini, sejumlah emiten bank terlihat masih kesulitan meningkatkan jumlah free float-nya. Dari riset Kontan, sampai dengan Senin (1/6/2026), setidaknya masih ada sekitar 24 emiten bank yang jumlah free float-nya belum mencapai free float 15%. Untuk…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Perusahaan securities crowdfunding atau urun dana PT Dana Aguna Nusantara (Danamart) menilai kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) atau BI Rate menjadi 5,25% dapat mempengaruhi preferensi sebagian investor (pemodal), khususnya terhadap instrumen dengan profil risiko relatif lebih rendah seperti produk perbankan. Meski demikian, Head of Marketing Communication Danamart Cindera Hegawan optimistis minat investor…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Rupiah spot ditutup pada level Rp 16.805 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Senin (1/6/2026), rebound 0,43% dari akhir pekan lalu yang ada di Rp 17.881 per dolar AS. Di Asia, rupiah menguat bersama rupee India dan yuan China. Rupiah menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia yakn i 0,43%, disusul rupee yang menguat 0,01% dan yuan China yang menguat 0,01% terhadap dolar AS. Sedangkan mayoritas…