Energi

Indika Energy Pertimbangkan Jual Aset Tambang Senilai Rp 18,1 Triliun

150
×

Indika Energy Pertimbangkan Jual Aset Tambang Senilai Rp 18,1 Triliun

Sebarkan artikel ini
Logo PT Indika Energy Tbk di kantor pusat perusahaan
PT Indika Energy Tbk dikabarkan tengah mempertimbangkan divestasi aset tambang Kideco Jaya Agung.

JAKARTA – PT Indika Energy Tbk (INDY) dikabarkan tengah menjajaki opsi divestasi atas aset pertambangan batubara miliknya, PT Kideco Jaya Agung. Langkah strategis ini mencuat di tengah upaya perusahaan dalam melakukan diversifikasi portofolio bisnis.

Berdasarkan laporan yang dihimpun dari Bloomberg, valuasi aset Kideco Jaya Agung ditaksir mencapai lebih dari US$ 1 miliar atau setara dengan Rp 18,1 triliun. Angka tersebut mencerminkan posisi strategis perusahaan dalam sektor energi nasional.

Indika Energy saat ini diketahui merupakan pemegang mayoritas saham Kideco Jaya Agung dengan porsi kepemilikan mencapai 91 persen. Perusahaan dikabarkan telah melibatkan penasihat keuangan untuk mengkaji potensi penjualan tersebut.

Proses penjajakan minat pasar juga telah dilakukan dengan menghubungi sejumlah calon pembeli potensial. Langkah ini bertujuan untuk mengukur tingkat ketertarikan investor terhadap aset tambang tersebut.

Meski demikian, pihak manajemen Indika Energy menegaskan bahwa pembahasan ini masih berada dalam tahap awal. Perusahaan juga memiliki opsi untuk tetap mempertahankan aset tersebut jika hasil evaluasi tidak memenuhi ekspektasi bisnis.

Hingga saat ini, perwakilan resmi dari Indika Energy maupun PT Kideco Jaya Agung belum memberikan pernyataan resmi terkait rumor divestasi tersebut. Spekulasi pasar masih terus berkembang seiring dengan dinamika sektor energi di Indonesia.

Sentimen pasar merespons positif kabar tersebut, dengan lonjakan harga saham INDY sebesar 8,04 persen menjadi Rp 2.420 per lembar pada perdagangan Kamis (16/7/2026). Kenaikan ini menunjukkan antusiasme investor terhadap langkah restrukturisasi aset perusahaan.

Kinerja keuangan Indika Energy sendiri saat ini menjadi sorotan di tengah fluktuasi harga komoditas global. Data pasar mencatat rasio harga terhadap laba (P/E ratio) perusahaan berada di level -48, angka yang cukup kontras dibandingkan rata-rata industri sebesar 78.

Strategi divestasi ini selaras dengan tren transformasi energi yang sedang gencar dilakukan oleh berbagai perusahaan energi nasional. Pemerintah Indonesia sendiri telah mengalokasikan anggaran subsidi energi sebesar Rp 210,1 triliun untuk tahun 2026, yang menuntut efisiensi operasional bagi perusahaan di sektor ini.

Di luar sektor batubara, industri energi nasional juga tengah diramaikan oleh berbagai aksi korporasi besar lainnya. Beberapa perusahaan energi tanah air kini mulai melirik diversifikasi ke sektor panas bumi serta teknologi energi baru yang lebih berkelanjutan.

Keputusan final mengenai nasib Kideco Jaya Agung akan bergantung pada hasil kajian mendalam yang dilakukan oleh manajemen Indika Energy. Investor kini menanti klarifikasi lebih lanjut mengenai rencana jangka panjang perusahaan dalam menyeimbangkan portofolio energi konvensional dan energi baru terbarukan.