Valuta

Harga Minyak Melonjak, Rupiah Melemah ke Rp 17.936 per Dolar AS

14
×

Harga Minyak Melonjak, Rupiah Melemah ke Rp 17.936 per Dolar AS

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di layar monitor
Nilai tukar rupiah melemah ke level Rp 17.936 per dolar AS akibat lonjakan harga minyak mentah dunia.

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mencatatkan pelemahan pada penutupan perdagangan Kamis (23/7/2026). Mata uang Garuda tertekan oleh sentimen lonjakan harga minyak mentah dunia yang kembali menembus level psikologis US$ 90 per barel.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp 17.936 per dolar AS. Posisi ini menunjukkan koreksi sebesar 0,11% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp 17.917 per dolar AS.

Tren pelemahan serupa juga tercermin dalam kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang diterbitkan Bank Indonesia. Rupiah ditutup melemah ke level Rp 17.915 per dolar AS pada perdagangan hari ini dibandingkan posisi pada hari sebelumnya.

Kenaikan harga minyak mentah menjadi katalis utama yang membebani pergerakan mata uang domestik. Data Trading Economics mencatat harga minyak mentah Brent sempat menyentuh level US$ 98,4 per barel, dengan kenaikan signifikan mencapai 61,7% secara year to date (YtD).

Ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak untuk memenuhi kebutuhan energi domestik menjadi faktor krusial dalam pelemahan ini. Lonjakan harga komoditas energi tersebut memicu peningkatan permintaan dolar AS untuk membiayai impor, yang pada akhirnya memberikan tekanan langsung terhadap nilai tukar rupiah.

Selain faktor harga komoditas, pasar saat ini tengah kekurangan katalis dari rilis data ekonomi domestik maupun global yang signifikan. Akibatnya, perhatian investor lebih banyak tersita pada perkembangan situasi geopolitik yang memanas di kawasan Timur Tengah.

Ketegangan di Timur Tengah dinilai menjadi determinan utama dalam pergerakan harga minyak dunia dalam jangka pendek. Ketidakpastian geopolitik tersebut turut memicu volatilitas di pasar keuangan global yang berimbas pada mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

Melihat kondisi fundamental domestik, sejumlah analis menilai sebenarnya terdapat tanda-tanda perbaikan ekonomi di dalam negeri. Namun, potensi pelemahan rupiah dinilai masih akan terus membayangi jika tren kenaikan harga minyak mentah dunia belum menunjukkan tanda-tanda melandai.

Untuk perdagangan Jumat (24/7/2026), nilai tukar rupiah diproyeksikan masih akan bergerak dalam rentang yang cukup lebar. Mata uang Garuda diperkirakan akan berfluktuasi di kisaran Rp 17.850 hingga Rp 18.000 per dolar AS di akhir pekan nanti.

Sentimen pasar ke depan masih akan sangat bergantung pada dinamika harga minyak global dan stabilitas keamanan di wilayah penghasil energi utama dunia. Investor diharapkan tetap mencermati arus berita terkait perkembangan geopolitik yang berpotensi memengaruhi stabilitas nilai tukar dalam waktu dekat.