Bursa Saham

Laba Unilever Naik 10,2%, Analis Rekomendasikan Hold Saham UNVR

7
×

Laba Unilever Naik 10,2%, Analis Rekomendasikan Hold Saham UNVR

Sebarkan artikel ini
Logo PT Unilever Indonesia Tbk di gedung perkantoran dengan latar belakang langit cerah
PT Unilever Indonesia Tbk mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 10,2% pada semester I-2026.

JAKARTA – PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) mencatatkan pertumbuhan penjualan yang solid sebesar 7,1% secara tahunan menjadi Rp16,9 triliun sepanjang semester I-2026. Namun, lonjakan beban operasional dan tingginya biaya bahan baku membuat laju pertumbuhan laba bersih perseroan masih tertahan.

Berdasarkan laporan keuangan semester I-2026 yang dirilis Selasa (28/7/2026), perusahaan membukukan laba inti sebesar Rp2,1 triliun atau tumbuh 10,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Capaian ini dinilai analis masih berada dalam rentang ekspektasi pasar.

Pada kuartal II-2026 saja, penjualan bersih Unilever melonjak 11,6% menjadi Rp8,5 triliun. Pertumbuhan ini didorong oleh kenaikan volume penjualan sebesar 12,7%, meskipun harga jual rata-rata produk justru turun 1,7% akibat strategi kompetitif perusahaan.

Lonjakan volume penjualan tersebut turut dipengaruhi oleh efek basis pembanding yang rendah serta pergeseran momentum hari raya. Distributor diketahui mulai mengoptimalkan penambahan stok pada April 2026, berbeda dengan pola pengisian stok pada Maret di tahun sebelumnya.

Kendati penjualan tumbuh dua digit, margin laba kotor perusahaan tertekan hingga berada di level 45% pada kuartal II-2026. Angka tersebut menyusut 316 basis poin akibat harga minyak sebagai komoditas bahan baku utama yang meroket sekitar 45% secara tahunan.

Tekanan juga datang dari rasio beban operasional terhadap penjualan yang meningkat menjadi 33,9%. Efisiensi pada anggaran iklan dan promosi belum cukup untuk menutupi tingginya biaya distribusi yang dipicu oleh kenaikan harga bahan bakar.

Akibat beban operasional yang membengkak, margin laba operasional atau EBIT Unilever tergerus ke level 11,1%. Laba bersih perusahaan pada kuartal II-2026 tercatat sebesar Rp829 miliar, atau hanya tumbuh tipis 4,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Dalam menyikapi tantangan tersebut, manajemen Unilever mulai menerapkan kenaikan harga produk secara selektif sebesar 3% hingga 5% sejak Juni 2026. Langkah ini diambil untuk mengimbangi kenaikan biaya produksi dan memperbaiki margin laba kotor di semester II-2026.

Analis Indo Premier Sekuritas, Andrianto Saputra, memproyeksikan kondisi margin perusahaan akan berangsur membaik pada paruh kedua tahun ini. Meski demikian, Unilever diperkirakan masih akan menanggung biaya transformasi sekitar Rp180 miliar pada kuartal III-2026 sebelum beban tersebut melandai di kuartal akhir.

Terkait prospek saham, Indo Premier Sekuritas memberikan rekomendasi hold untuk saham UNVR dengan target harga Rp2.100 per saham. Valuasi ini menggunakan asumsi price to earnings (PE) 20 kali pada tahun 2026.

Pelaku pasar tetap perlu mewaspadai risiko utama yang membayangi kinerja perseroan ke depan. Faktor utama yang menjadi perhatian adalah volatilitas harga bahan baku minyak dan potensi pelemahan daya beli masyarakat yang dapat membatasi volume penjualan.