JAKARTA – PT Indosat Tbk (ISAT) resmi meningkatkan alokasi belanja modal atau capital expenditure (capex) tahun 2026 sebesar 77% menjadi Rp23 triliun. Peningkatan ini dilakukan guna mempercepat ekspansi jaringan 5G pasca keberhasilan perusahaan memenangkan lelang frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz.
Presiden Direktur sekaligus Chief Executive Officer Indosat Ooredoo Hutchison, Vikram Sinha, menyatakan bahwa tambahan investasi senilai Rp10 triliun tersebut difokuskan untuk optimalisasi infrastruktur digital. Langkah ini diambil untuk memastikan manfaat spektrum baru dapat dirasakan oleh hampir 100 juta pelanggan perusahaan.
Indosat berhasil mengamankan tambahan 20 MHz pada pita frekuensi 700 MHz dan 60 MHz pada pita 2,6 GHz melalui lelang yang diumumkan pada 10 Juli 2026. Penambahan ini menjadikan total spektrum yang dikuasai Indosat mencapai 215 MHz atau setara 30,2% dari total spektrum seluler nasional.
Direktur dan Chief Legal and Regulatory Officer Indosat, Reski Damayanti, menjelaskan bahwa kombinasi dua spektrum tersebut memiliki fungsi strategis. Pita 700 MHz akan memperluas jangkauan layanan (coverage), sementara pita 2,6 GHz akan difokuskan untuk meningkatkan kapasitas jaringan.
Kombinasi tersebut diyakini akan menjadi fondasi utama bagi perluasan layanan 5G Indosat. Selain itu, perusahaan melihat peluang monetisasi baru melalui layanan Fixed Wireless Access (FWA) dan berbagai inovasi digital berbasis 5G lainnya.
Keputusan ekspansi agresif ini didukung oleh kinerja keuangan perusahaan yang solid sepanjang semester I 2026. Indosat mencatatkan pendapatan sebesar Rp30,7 triliun, tumbuh 13,1% secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Laba periode berjalan perusahaan juga menunjukkan lonjakan signifikan menjadi Rp4,42 triliun dari sebelumnya Rp2,51 triliun pada semester I 2025. Pertumbuhan tersebut didorong oleh kenaikan trafik data sebesar 19,9% dan peningkatan average revenue per user (ARPU) sebesar 17,3% menjadi Rp46 ribu.
EBITDA perusahaan tercatat meningkat 14% mencapai Rp14,6 triliun dengan margin EBITDA yang stabil di angka 47,6%. Sementara itu, laba bersih yang dinormalisasi turut tumbuh 49,2% menjadi Rp3,2 triliun dengan total basis pelanggan seluler mencapai 93,4 juta.
Strategi penguatan infrastruktur ini sejalan dengan tren industri teknologi global yang menuntut kapasitas jaringan lebih besar. Di pasar internasional, perusahaan semikonduktor seperti TSMC juga mencatatkan rekor laba akibat tingginya permintaan untuk teknologi kecerdasan buatan (AI).
Di sisi lain, kondisi makroekonomi global masih membayangi pasar, dengan probabilitas 77% bahwa Federal Reserve akan menahan suku bunga di level saat ini sepanjang tahun 2026. Indosat sendiri terus berupaya menjaga fleksibilitas keuangan, termasuk melalui potensi dividen spesial pasca divestasi aset fiber optik.
Manajemen menegaskan komitmennya untuk tetap disiplin dalam pengelolaan spektrum dan investasi. Fokus utama perusahaan ke depan adalah mendukung transformasi digital Indonesia melalui penyediaan konektivitas yang lebih luas dan berkualitas.






