Bursa Saham

IHSG Dibuka Menguat, Saham CUAN, HRTA, dan ANTM Pimpin Kenaikan

55
×

IHSG Dibuka Menguat, Saham CUAN, HRTA, dan ANTM Pimpin Kenaikan

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di layar monitor bursa efek
IHSG dibuka menguat 0,13% ke level 6.359 pada perdagangan Kamis pagi.

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Kamis (6/8) dengan pergerakan positif. Indeks mencatatkan penguatan sebesar 0,13% atau 8,45 poin ke level 6.359,59 pada pukul 09.05 WIB.

Kenaikan ini membuka peluang bagi IHSG untuk mencatatkan tren penguatan selama tiga hari berturut-turut. Optimisme pelaku pasar terhadap prospek ekonomi domestik menjadi motor utama penggerak indeks di tengah pelemahan bursa Asia.

Data RTI mencatat sebanyak 269 saham mengalami kenaikan, sementara 205 saham terkoreksi dan 212 saham lainnya bergerak stagnan. Total volume perdagangan mencapai 3,9 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 1,34 triliun.

Sektor bahan baku (IDX Basic) memimpin penguatan dengan kenaikan 1,29%. Sektor transportasi (IDX Trans) dan sektor energi (IDX Energy) turut memberikan kontribusi positif masing-masing sebesar 0,61% dan 0,29%.

Saham-saham yang memimpin daftar top gainers di indeks LQ45 adalah PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) yang naik 3,70% ke level Rp 700. Selain itu, PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) menguat 3% ke Rp 2.060 dan PT Antam Tbk (ANTM) naik 2,28% ke Rp 3.140.

Di sisi lain, saham yang masuk dalam jajaran top losers meliputi PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) yang turun 2,69% ke Rp 1.625. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) terkoreksi 1,48% ke Rp 2.670, disusul PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) yang melemah 1,36% ke Rp 1.820.

Penguatan IHSG didukung oleh data fundamental makroekonomi yang solid. PDB Indonesia kuartal II-2026 tercatat tumbuh 5,29% secara tahunan (year on year), melampaui konsensus pasar yang memprediksi pertumbuhan di angka 5,12%.

Ke depan, pelaku pasar akan menjadikan rilis laporan keuangan emiten sebagai katalis utama pergerakan indeks. Kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Fed, juga terus dipantau karena berisiko memengaruhi arus modal asing.

Berbanding terbalik dengan kondisi domestik, mayoritas bursa Asia bergerak di zona merah. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang dilaporkan turun 0,69% akibat tekanan pada saham-saham sektor teknologi.

Bursa Korea Selatan, KOSPI, merosot 3,64%, sementara indeks Nikkei 225 Jepang terkoreksi 1,57%. Pelemahan ini dipicu oleh koreksi pada saham-saham teknologi global seperti Samsung Electronics, SK Hynix, dan Tokyo Electron.

Tren negatif di Asia mengikuti pergerakan Wall Street yang mengakhiri reli saham teknologi. Investor saat ini tengah mencermati besarnya belanja perusahaan untuk pengembangan pusat data kecerdasan buatan (AI) yang dinilai cukup membebani kinerja keuangan.

Di pasar komoditas, harga minyak dunia bergerak relatif stabil. Minyak Brent tercatat turun tipis ke level US$ 79,31 per barel, sementara minyak mentah WTI melemah ke posisi US$ 74,96 per barel.

Sentimen harga minyak global masih dipengaruhi oleh perkembangan diplomasi antara Iran dan Oman. Pasar mengharapkan adanya kesepakatan yang dapat meredakan ketegangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang telah berlangsung selama lima bulan terakhir.