Regulasi

Laba Naik 9%, Trisula Textile

164
×

Laba Naik 9%, Trisula Textile

Sebarkan artikel ini

CIMAHI – PT Trisula Textile Industries Tbk (BELL) resmi memutuskan untuk membagikan dividen tunai sebesar Rp10 miliar atau setara Rp1,38 per lembar saham. Keputusan ini disepakati dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang berlangsung di Cimahi, Jawa Barat, pada Rabu (22/4/2026). Rencananya, dividen tersebut akan mulai didistribusikan kepada para pemegang saham pada 22 Mei 2026.

Pembagian dividen ini merupakan bentuk apresiasi perusahaan atas kinerja keuangan positif sepanjang tahun buku 2025. Sepanjang periode tersebut, BELL berhasil mencatatkan laba bersih sebesar Rp12,57 miliar, atau tumbuh 9 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan total penjualan mencapai Rp584,75 miliar.

Direktur Utama BELL, Karsongno Wongso Djaja, menjelaskan bahwa kebijakan dividen ini tetap dipertahankan sebagai wujud komitmen perusahaan kepada pemegang saham, meskipun industri tekstil nasional saat ini menghadapi tantangan yang cukup berat.

“Keputusan ini adalah bentuk apresiasi kami bagi para pemegang saham di tengah dinamika industri tekstil tanah air,” ujar Karsongno dalam paparan publik setelah rapat.

Untuk menjaga keberlanjutan bisnis, BELL kini fokus mengoptimalkan seluruh segmen usaha, mulai dari manufaktur, penyediaan seragam, hingga distribusi dan ritel. Strategi yang dijalankan meliputi peningkatan efisiensi produksi, modernisasi mesin, serta inovasi produk melalui Trisula Innovation Center (TIC).

Kepercayaan publik menjadi salah satu pilar pertumbuhan BELL. Produk perusahaan telah banyak digunakan oleh instansi pemerintah, sektor swasta, perbankan, hingga berbagai industri lainnya. Selain kualitas, BELL mengandalkan fleksibilitas layanan kustomisasi produk untuk memenuhi kebutuhan spesifik pelanggan.

Di sektor ritel, perusahaan terus melakukan ekspansi untuk merek JOBB dan Jack Nicklaus di lokasi-lokasi strategis. Hingga akhir Desember 2025, jaringan ritel perusahaan telah mencapai 135 gerai untuk merek JOBB dan 76 gerai untuk Jack Nicklaus.

Dengan berbagai langkah strategis tersebut, manajemen BELL optimistis dapat menjaga tren pertumbuhan pendapatan di level *high single digit* pada tahun ini.

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Tekanan di pasar keuangan domestik masih membayangi kinerja industri reksadana. Di tengah pelemahan pasar saham dan meningkatnya volatilitas nilai tukar rupiah, manajer investasi memilih memperkuat kualitas portofolio melalui seleksi emiten berbasis fundamental guna menjaga kinerja reksadana saham hingga kuartal III 2026. Baca Juga: Rupiah Masih Rentan, Berisiko Tembus Rp 19.000 per Dolar AS di Akhir Juni 2026 Berdasarkan…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Pasar keuangan domestik saat ini masih menghadapi tekanan yang cukup besar. Di pasar saham, misalnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah merosot sekitar 35,3% sejak awal tahun 2026 ke level 5.594,76. Tekanan juga terjadi di pasar keuangan secara lebih luas seiring pelemahan nilai tukar rupiah yang kini berada di kisaran Rp 18.000 per dolar AS. Dalam situasi yang penuh tantangan seperti saat ini, investor tampaknya…