Jakarta – Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan pada awal perdagangan hari ini, Senin (17/11).
Pemicunya adalah kembali dibukanya aktivitas pengiriman di pelabuhan ekspor utama Rusia, Novorossiysk.
Sebelumnya, pelabuhan tersebut sempat lumpuh selama dua hari akibat serangan drone Ukraina.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent turun 58 sen atau 0,9 persen menjadi US$63,81 per barel.
Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) melemah 59 sen atau 1 persen ke posisi US$59,50 per barel.
Pada perdagangan jumat (14/11), kedua acuan harga minyak ini sempat melonjak lebih dari 2 persen.
Kenaikan itu menutup pekan lalu dengan kenaikan tipis,setelah penghentian ekspor di Novorossiysk dan terminal Caspian Pipeline Consortium mengganggu sekitar 2 persen pasokan global.
Menurut sumber industri dan data LSEG, aktivitas pengapalan minyak di Novorossiysk kembali dimulai pada Minggu (16/11).
Namun, pasar tetap waspada terhadap potensi gangguan lanjutan akibat peningkatan serangan Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia.
Militer Ukraina mengklaim telah menyerang kilang minyak Ryazan pada Sabtu, serta fasilitas Novokuibyshevsk di wilayah Samara pada Minggu.
“Investor sedang mencoba menilai bagaimana serangan ukraina akan memengaruhi ekspor minyak mentah Rusia dalam jangka panjang, sekaligus melakukan aksi ambil untung setelah reli Jumat,” ujar analis Fujitomi Securities, Toshitaka Tazawa.
Tazawa menambahkan, persepsi kelebihan pasokan akibat peningkatan produksi OPEC+ masih menekan harga.
Ia memperkirakan WTI akan bertahan di kisaran US$60 per barel dengan fluktuasi sekitar US$5.
Selain itu,pasar juga mencermati dampak sanksi negara Barat terhadap suplai dan aliran perdagangan Rusia.
Amerika Serikat (AS) telah melarang transaksi dengan perusahaan minyak Rusia, Lukoil dan Rosneft, setelah 21 November.
Langkah ini diambil sebagai upaya menekan Moskow untuk bernegosiasi terkait perang Ukraina.
Presiden AS Donald Trump menyatakan, Partai Republik tengah menyiapkan legislasi yang akan menjatuhkan sanksi pada negara mana pun yang masih berbisnis dengan Rusia, bahkan Iran berpotensi masuk daftar.
Sebelumnya, OPEC+ sepakat menaikkan target produksi untuk Desember sebesar 137 ribu barel per hari, sama seperti peningkatan pada Oktober dan November.
Mereka juga memutuskan jeda kenaikan pada kuartal pertama tahun depan.







