Jakarta – Sektor ritel Indonesia diprediksi masih menghadapi tantangan pertumbuhan yang lemah hingga tahun 2025. Daya beli konsumen yang belum pulih, perubahan alokasi dana ke kebutuhan pokok, dan permintaan barang non-primer yang lesu menjadi faktor utama.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Christy Halim, menilai rasionalisasi anggaran pemerintah sebesar Rp 306,7 triliun dan pembekuan sementara pengeluaran pemerintah semakin menekan konsumsi dan menunda pemulihan sektor ritel.
Meningkatnya biaya operasional, masalah rantai pasokan, dan tantangan struktural, terutama untuk toko fisik tradisional, terus membebani margin keuntungan peritel.
Sebagian besar peritel mencatatkan pertumbuhan penjualan toko yang sama (SSSG) negatif selama sembilan bulan pertama tahun 2025. Pengecualian terjadi pada peritel kebutuhan pokok seperti PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI).
Namun, Christy memperkirakan ekspansi fiskal pemerintah akan menjadi kunci pemulihan bertahap pada tahun 2026, termasuk di sektor ritel. Peningkatan anggaran perlindungan sosial dan realisasi program makan bergizi gratis (MBG) diharapkan meningkatkan pendapatan masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah.
Kebijakan ini diharapkan dapat mendorong konsumsi, pemulihan volume penjualan, dan peningkatan efisiensi operasional seiring dengan peningkatan lapangan kerja dan upah riil.
Meski demikian, upah minimum yang lebih tinggi dan nilai tukar rupiah yang melemah masih menjadi tantangan utama yang menekan biaya dan margin peritel.
Sepanjang Januari-September 2025, pertumbuhan SSSG masih lemah, berkisar antara -3,6% hingga 1,8%. Namun, peritel terus mencatatkan pertumbuhan pendapatan positif melalui ekspansi toko.
Strategi ekspansi ini diperkirakan akan berlanjut pada tahun 2026. Aspirasi Hidup Indonesia (ACES) berencana meremajakan sejumlah toko di mal kelas atas dan mempercepat peluncuran merek Neka. Sementara itu, MIDI menargetkan sekitar 200 pembukaan toko baru.
Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, menilai kebijakan fiskal pemerintah pada tahun 2026 berpotensi lebih akomodatif dan fokus pada penguatan konsumsi domestik, terutama melalui belanja sosial, program peningkatan gizi, dan stabilisasi harga kebutuhan pokok.
Normalisasi belanja pemerintah pasca penyesuaian di tahun 2025 diharapkan memperbaiki likuiditas dan secara bertahap mendorong pemulihan daya beli, terutama di kalangan menengah ke bawah yang menjadi basis utama konsumsi ritel.
Analis OCBC Sekuritas, Jessica Leonardy, mengatakan pemerintah telah memperkenalkan paket stimulus ekonomi untuk kuartal IV-2025 dengan anggaran total Rp 16,23 triliun. Inisiatif seperti bantuan pangan dan program kerja berbayar diharapkan meningkatkan daya beli.
Pemerintah juga akan meluncurkan bantuan langsung tunai (BLT) senilai Rp 30 triliun kepada 35 juta keluarga berpenghasilan rendah mulai 20 Oktober 2025. Dana ini bertujuan memperkuat daya beli dan mempertahankan momentum konsumsi hingga akhir tahun.
Christy merekomendasikan beli saham MIDI dengan target harga Rp 550 per saham karena profil bisnisnya yang defensif sebagai peritel kebutuhan pokok dengan proyeksi pertumbuhan pendapatan 16,4% pada tahun 2026.
Ia juga merekomendasikan beli saham PT MAP Aktif Adiperkasa (MAPA) dengan target harga Rp 800 per saham, didorong oleh potensi pertumbuhan yang kuat dan perannya sebagai penggerak utama dalam grup MAP.
Azis merekomendasikan beli saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) dengan target harga Rp 2.100 per saham, memanfaatkan momentum Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Sementara Jessica merekomendasikan *buy* saham PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) dengan target harga Rp 1.800 per saham dan beli saham AMRT dengan target harga Rp 2.900 per saham.







