Bursa Saham

TOWR Keluar dari Indeks LQ45, Analis Sebut Dampaknya Hanya Teknis

50
×

TOWR Keluar dari Indeks LQ45, Analis Sebut Dampaknya Hanya Teknis

Sebarkan artikel ini
Gedung Bursa Efek Indonesia di Jakarta dengan latar belakang aktivitas pasar modal.
PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) resmi keluar dari daftar konstituen Indeks LQ45 per 3 Agustus 2026.

JAKARTA – PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) resmi terdepak dari daftar konstituen Indeks LQ45 terhitung sejak 3 Agustus 2026. Keputusan ini diambil Bursa Efek Indonesia (BEI) setelah emiten menara telekomunikasi tersebut dinilai tidak lagi memenuhi kriteria likuiditas, kapitalisasi pasar, dan fundamental yang dipersyaratkan.

Hingga Kamis (6/8), saham TOWR tercatat mengalami koreksi harga signifikan sebesar 31,28% sejak awal tahun (year-to-date) ke level Rp 402 per lembar. Analis menilai penurunan ini mencerminkan tekanan dari proses penyesuaian portofolio oleh manajer investasi yang menjadikan indeks LQ45 sebagai acuan utama.

Kendati keluar dari indeks saham unggulan, para analis menegaskan bahwa dampak yang ditimbulkan bersifat teknikal semata. Fundamental bisnis perseroan dinilai tetap solid karena ditopang oleh pendapatan berulang dari kontrak sewa menara jangka panjang yang stabil.

Kinerja keuangan TOWR pada semester I-2026 pun menunjukkan tren pertumbuhan positif. Perseroan mencatatkan pendapatan sebesar Rp 7,20 triliun, meningkat 12,69% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 6,39 triliun.

Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turut tumbuh 12,12% menjadi Rp 1,85 triliun pada semester pertama 2026. Angka ini naik dari perolehan laba bersih sebesar Rp 1,65 triliun pada semester I-2025.

Meskipun mencatatkan pertumbuhan pendapatan, beban pokok pendapatan perseroan terpantau meningkat 27,09% secara tahunan menjadi Rp 2,58 triliun. Peningkatan beban ini menjadi salah satu poin yang dipantau pelaku pasar di tengah kondisi makro ekonomi saat ini.

Tantangan eksternal utama yang dihadapi TOWR meliputi tingkat suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) yang berada di level 5,75%. Kondisi tersebut berpotensi menekan beban bunga perusahaan di masa mendatang.

Selain itu, dinamika industri telekomunikasi yang tengah mengalami fase konsolidasi turut memengaruhi pertumbuhan organik penyewa menara. Namun, akselerasi jaringan 5G oleh operator besar seperti Telkom dan Indosat diprediksi akan kembali memicu kebutuhan densifikasi menara.

Ekspansi bisnis fiber dan potensi monetisasi aset melalui skema sale and leaseback dinilai menjadi katalis positif bagi perseroan. Langkah strategis ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan kinerja jangka panjang dan memicu rerating harga saham.

Proyeksi kinerja TOWR untuk sepanjang tahun 2026 tetap menunjukkan optimisme. Pendapatan perseroan diprediksi mencapai Rp 13,731 triliun atau tumbuh sekitar 3,0% dibandingkan realisasi tahun 2025.

Laba bersih tahunan juga diestimasikan meningkat 10,0% menjadi Rp 4,046 triliun. Dengan mempertimbangkan prospek tersebut, rekomendasi beli diberikan dengan target harga Rp 580 per saham dalam kurun waktu 12 bulan ke depan.