Tutup
Regulasi

Saham Negara Berkembang Melesat di 2026: Peluang AI?

323
×

Saham Negara Berkembang Melesat di 2026: Peluang AI?

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Pasar saham negara berkembang mengawali tahun 2026 dengan tren positif, melanjutkan reli tahunan yang fantastis senilai US$7,2 triliun. Peran Asia yang semakin sentral dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI) menjadi salah satu pendorong utama penguatan ini.

Saham-saham teknologi di China mencatatkan lonjakan tertinggi sejak September, mendongkrak indeks acuan di Korea Selatan dan Taiwan hingga mencapai rekor tertingginya sepanjang masa.

Menurut data *Bloomberg*, indeks saham negara berkembang MSCI Inc. melonjak 1,6% pada pukul 09.01 waktu London. Level ini menjadi yang tertinggi sejak Februari 2021.

Kinerja ini menempatkan indeks tersebut hanya terpaut sekitar 20 poin atau 1,6% dari rekor tertingginya sepanjang sejarah. Pada tahun sebelumnya, saham pasar negara berkembang mencatatkan reli tahunan terbesar sejak 2017, melampaui indeks S&P 500, didorong oleh saham-saham berbasis AI dan emiten emas.

Sementara itu, pergerakan mata uang cenderung stabil dengan indeks utama terkoreksi tipis 0,1%. Rand Afrika Selatan menjadi mata uang negara berkembang dengan penguatan terbesar, sedangkan yuan China mencapai level tertinggi sejak Mei 2023 di pasar *offshore*.

Fokus pelaku pasar saat ini tertuju pada ekspektasi pelonggaran kebijakan oleh Federal Reserve (The Fed). Pasar uang memperkirakan pemangkasan suku bunga AS berikutnya baru akan terjadi pada Juni.

Gelombang optimisme menyelimuti pasar negara berkembang pascareli 2025. Investor global semakin gencar mengalihkan aset dari AS, menyoroti perbaikan indikator fiskal dan moneter di negara-negara berkembang.

Beberapa faktor kunci yang akan memengaruhi pasar di awal tahun ini meliputi arah ekonomi China, kebijakan The Fed, pergerakan dolar AS, serta kekhawatiran terkait valuasi saham AI.

Keputusan perdagangan dan geopolitik Donald Trump juga turut mewarnai sentimen pasar. Selain itu, prospek pemangkasan suku bunga oleh bank sentral lokal mendorong strategi investasi yang lebih selektif.

Varun Laijawalla, manajer portofolio di Ninety One Plc., menekankan pentingnya peran strategis pemimpin teknologi di pasar negara berkembang.

“Lingkungan global saat ini mengarah pada diversifikasi yang berkelanjutan, menjauhi pasar negara maju yang sangat terkonsentrasi dan mahal,” ujarnya, dikutip *Bloomberg* pada Sabtu (3/1/2026).

Lajawalla menambahkan bahwa dengan kontribusi AS terhadap sekitar dua pertiga dari indeks ekuitas global, realokasi yang relatif kecil saja dapat menghasilkan arus masuk yang signifikan ke pasar negara berkembang.

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. PT Pelat Timah Nusantara Tbk (NIKL) menganggarkan belanja modal alias capital expenditure (capex) sekitar US$ 2,1 juta pada tahun 2026. Dana ini difokuskan untuk mendukung peningkatan operasional pabrik sekaligus menjaga daya saing Latinusa di tengah kondisi pasar yang masih menantang. Dari total anggaran tersebut, alokasi capex akan digunakan untuk machinery & equipment sebesar US$ 1,8 juta dan supporting equipment…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Di tengah meningkatnya volatilitas pasar keuangan, sejumlah emiten dengan arus kas kuat semakin agresif melakukan aksi korporasi berupa pembelian kembali atau buyback saham. Langkah ini dinilai menjadi salah satu strategi untuk menjaga stabilitas harga saham sekaligus mencerminkan keyakinan manajemen terhadap fundamental perusahaan. Deretan Emiten Lakukan Buyback Saham Terbaru, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP)…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Jangan lewatkan dividen saham bernilai jumbo dari anak usaha Astra. Yield dividen saham ini mencapai 12% lebih. Anak usaha Astra yang akan bayar dividen jumbo ini adalah PT Astra Graphia Tbk (ASGR). Pembayaran dividen ini diputuskan melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2025. Adapun RUPST PT Astragraphia digelar di Catur Dharma Hall, Menara Astra, Jakarta, Rabu (15/4/2026). Besaran dividen saham ASGR sebanyak…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya terkoreksi setelah mencatat penguatan selama lima hari berturut-turut. Meski sempat dibuka di zona hijau, tekanan jual membuat IHSG berbalik arah dan ditutup melemah pada akhir perdagangan Rabu (15/4/2026). Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui RTI, IHSG turun 0,68% atau terkoreksi 52,36 poin ke level 7.623,58. Baca Juga: Reli IHSG Terhenti SumbarSumbarbisnis.com Sell Asing…