Bursa Saham

Wall Street Menguat Didorong Data Inflasi dan Laporan Keuangan Emiten

81
×

Wall Street Menguat Didorong Data Inflasi dan Laporan Keuangan Emiten

Sebarkan artikel ini
Papan layar elektronik yang menampilkan pergerakan indeks saham Wall Street di Bursa Efek New York.
Bursa saham Amerika Serikat menguat merespons data inflasi produsen dan laporan keuangan emiten kuartal II.

NEW YORK – Bursa saham Amerika Serikat mencatatkan penguatan pada pembukaan perdagangan Rabu (15/7/2026). Indeks utama Wall Street merespons positif rilis data inflasi produsen yang lebih rendah dari ekspektasi serta hasil kinerja keuangan emiten kuartal II yang melampaui target pasar.

Indeks Dow Jones Industrial Average naik 95,9 poin atau 0,18 persen menjadi 52.604,2. Sementara itu, indeks S&P 500 menguat 28,1 poin atau 0,37 persen ke level 7.571,72.

Indeks Nasdaq Composite turut mencatatkan kenaikan sebesar 154,2 poin atau 0,59 persen ke posisi 26.261,18. Sektor semikonduktor menjadi salah satu pendorong utama penguatan indeks Nasdaq.

Saham ASML yang terdaftar di bursa AS naik 2,5 persen setelah perusahaan menaikkan proyeksi keuangan tahun 2026. Hal ini meredakan kekhawatiran investor mengenai prospek permintaan chip terkait perkembangan kecerdasan buatan (AI).

Di sisi lain, saham PayPal Holdings melonjak cukup signifikan sebesar 19,5 persen. Lonjakan terjadi menyusul laporan adanya potensi akuisisi oleh Stripe dan Advent International dengan nilai transaksi sekitar US$ 53 miliar.

Musim laporan keuangan kuartal II memberikan dorongan tambahan bagi pasar. Sejumlah bank besar AS melaporkan kinerja yang solid selama dua hari berturut-turut.

Saham BlackRock naik 5,1 persen pada perdagangan pre-market setelah mencatatkan laba yang melampaui ekspektasi. Kenaikan pasar saham secara umum juga berdampak positif pada nilai aset kelolaan perusahaan tersebut.

Morgan Stanley turut mencatatkan kenaikan saham sebesar 0,5 persen. Kinerja bank investasi ini ditopang oleh aktivitas merger dan akuisisi yang tetap kuat.

Dari sisi makroekonomi, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan Producer Price Index (PPI) turun 0,3 persen pada Juni. Data ini berlawanan dengan ekspektasi pasar yang sebelumnya memprediksi stagnasi harga.

Penurunan PPI memperkuat indikasi bahwa tekanan inflasi di AS mulai mereda. Laporan ini sejalan dengan data inflasi konsumen yang dirilis sehari sebelumnya.

Kondisi tersebut secara langsung mengurangi ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga lanjutan oleh The Fed. Pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga 25 basis poin hanya sekitar 16 persen.

Angka tersebut turun tajam dibandingkan prediksi sebesar 41 persen sebelum data inflasi dirilis. Meski demikian, Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan bahwa satu data positif belum cukup untuk menyatakan kemenangan penuh atas inflasi.

Sementara itu, pelaku pasar masih memantau perkembangan ketegangan geopolitik global. Amerika Serikat dilaporkan memulai gelombang baru serangan terhadap Iran setelah pemberlakuan blokade laut.

Iran merespons situasi tersebut dengan ancaman pembatasan ekspor energi dari kawasan Timur Tengah. Investor kini menyeimbangkan antara optimisme kinerja emiten dengan risiko gangguan pasokan energi global.