Washington D.C. – Pemerintah Amerika Serikat menjatuhkan sanksi denda terbesar dalam sejarahnya kepada Third Coast, perusahaan yang bertanggung jawab atas tumpahan minyak besar di Teluk Meksiko pada tahun 2023. Kebocoran itu mencemari laut dengan 1,1 juta galon minyak.
Denda yang mencapai US$ 9,6 juta atau setara Rp 160,9 miliar (kurs Rp 16.760/US$) itu hampir menyamai total denda tahunan yang biasa dijatuhkan oleh Pipeline and Hazardous Materials Safety Administration (PHMSA) untuk seluruh kasus pelanggaran.
Insiden ini memicu kemarahan publik dan sorotan tajam terhadap standar keselamatan industri perpipaan minyak.
Menurut Direktur Eksekutif Pipeline Safety Trust, Bill Caram, kebocoran ini adalah bukti nyata kegagalan sistemik dalam tubuh perusahaan.
“Ini menunjukkan ketidakmampuan mendasar operator dalam menerapkan peraturan keselamatan pipa,” tegas Caram, seperti dilansir *Associated Press (AP)*. Ia menambahkan bahwa denda besar ini “layak dan perlu.”
Meski begitu, Caram meragukan apakah denda sebesar itu akan memberikan efek jera yang signifikan bagi Third Coast.
Perusahaan yang memiliki jaringan pipa sepanjang 3.058 km ini, pada September 2025 lalu, baru saja mendapatkan pinjaman hampir US$ 1 miliar (Rp 16,76 triliun).
“Denda yang diusulkan ini mewakili kurang dari 3% dari estimasi pendapatan tahunan Third Coast Midstream,” ungkap Caram.
Ia menekankan bahwa “Pencegahan yang efektif memerlukan hukuman yang membuat ketidakpatuhan menjadi lebih mahal daripada kepatuhan.”
PHMSA menemukan bahwa Third Coast tidak menerapkan prosedur darurat yang memadai. Hal ini menyebabkan operator gagal menghentikan aliran minyak selama hampir 13 jam setelah indikasi masalah pertama kali muncul.
Selain itu, perusahaan dinilai kurang cermat dalam melakukan penilaian risiko dan perawatan pipa Main Pass Oil Gathering berdiameter 18 inci.
“Mereka gagal melakukan analisis atau evaluasi integritas baru setelah perubahan keadaan yang mengungkap faktor risiko baru dan meningkat,” jelas PHMSA.
Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) juga menyoroti bahwa Third Coast telah melewatkan beberapa peluang untuk mengevaluasi potensi bahaya geologis terhadap integritas pipa mereka.
NTSB menyimpulkan bahwa tanah longsor bawah laut, yang dipicu oleh faktor-faktor seperti badai, menjadi penyebab utama kebocoran tersebut. Padahal, ancaman ini sudah lama diketahui oleh industri.
Menanggapi sanksi tersebut, seorang juru bicara Third Coast menyatakan “terkejut” dengan beberapa detail yang dimasukkan PHMSA dalam tuduhannya serta besarnya denda.
“Setelah keterlibatan yang konstruktif dengan PHMSA selama dua tahun terakhir, kami terkejut melihat beberapa bagian dari tuduhan terbaru yang menurut kami tidak akurat dan melampaui preseden yang ada. Kami akan menanggapi kekhawatiran ini bersama badan tersebut ke depan,” ujarnya.
Walaupun volume tumpahan minyak ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan bencana BP tahun 2010, NTSB meyakini dampak kebocoran dapat diminimalkan jika para pekerja di ruang kendali Third Coast bertindak lebih cepat.







