Tutup
Regulasi

Saham Energi Bersih Bergolak: Peluang Investasi di Tengah Kebijakan AS?

341
×

Saham Energi Bersih Bergolak: Peluang Investasi di Tengah Kebijakan AS?

Sebarkan artikel ini

Jakarta – Sektor energi bersih terbarukan (EBT) diterpa sentimen negatif setelah Amerika Serikat (AS) keluar dari sejumlah organisasi global, termasuk yang bergerak di bidang energi bersih. Langkah ini memicu kekhawatiran di kalangan investor terhadap keberlanjutan pendanaan global di sektor EBT, yang berimbas pada penurunan harga saham sejumlah emiten.

Tekanan jual terlihat pada perdagangan Kamis (8/1/2026), sehari setelah keputusan AS tersebut diumumkan. Analis KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menilai bahwa kebijakan AS memicu perubahan persepsi risiko investor terhadap prospek pendanaan energi bersih secara global.

“Terjadi *risk off*, koreksi kemarin karena *re-rating* valuasi. Saham EBT selama ini dihargai premium karena ada unsur ESG dan arus dana hijau global. Dengan AS keluar, investor khawatir tren *green boom* global melambat,” jelas Wafi.

Pada tahun 2025, sentimen positif sempat mendorong penguatan saham EBT, terutama dengan kehadiran Danantara yang menerbitkan obligasi Patriot untuk mendukung proyek PSEL (pengolahan sampah menjadi energi listrik). Dukungan juga datang dari Perpres Nomor 109 Tahun 2025 yang diteken Presiden Prabowo Subianto.

Namun, Wafi berpendapat sentimen positif dari dalam negeri dampaknya terbatas jika dibandingkan dengan pengaruh kebijakan negara besar seperti AS.

“Sentimen Danantara memang kuat di 2025 sebagai penopang pendanaan domestik. Tapi sektor EBT itu *capital intensive* dan sangat bergantung pada standar atau arah kebijakan global. Jadi euforia lokal kalah oleh ketakutan kalau skema pendanaan hijau global bakal mandek atau bubar,” paparnya.

Berkurangnya komitmen global juga berpotensi meningkatkan biaya pendanaan emiten EBT. Hal ini dapat berdampak pada fundamental keuangan perusahaan, mengingat industri EBT membutuhkan investasi jangka panjang dengan biaya besar.

“Emiten EBT butuh pinjaman bunga rendah atau *green financing* untuk ekspansi. Kalau AS cabut, lembaga keuangan global mungkin akan lebih ketat atau menaikkan bunga pinjaman untuk proyek hijau karena risiko politik naik,” imbuhnya.

Pada penutupan perdagangan Kamis (8/1/2026), beberapa saham EBT mengalami penurunan. PGEO turun 1,67%, OASA tergerus 9,71%, TOBA merosot 10,42%, dan BREN turun 0,52%.

Namun, pada perdagangan Jumat (9/1/2026), sebagian besar emiten energi bersih kembali mencatatkan kenaikan. PGEO naik 1,27%, OASA naik 2,15%, dan TOBA naik 1,16%. Sementara itu, BREN tercatat turun -0,79%.