Tutup
Regulasi

Proyeksi Nilai Tukar Rupiah di Tengah Sentimen Global Tahun 2026

119
×

Proyeksi Nilai Tukar Rupiah di Tengah Sentimen Global Tahun 2026

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Eskalasi konflik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran menjadi katalis utama pelemahan mata uang di berbagai negara, termasuk Indonesia. Sepanjang tahun 2026, pergerakan nilai tukar rupiah diproyeksikan bakal sangat bergantung pada kombinasi sentimen geopolitik global dan kondisi fundamental ekonomi domestik.

Hingga pekan keenam, konflik di Timur Tengah masih menunjukkan ketidakpastian tinggi. Upaya de-eskalasi yang sempat muncul pasca-pengumuman gencatan senjata oleh Presiden AS Donald Trump pada 7 April lalu, kembali memudar setelah memanasnya situasi di Lebanon dan penutupan kembali Selat Hormuz oleh Iran.

Chief Economist BRI Danareksa Sekuritas, Helmy Kristanto, menilai volatilitas pasar saat ini jauh lebih tajam dan terkonsentrasi dibandingkan periode perang Rusia-Ukraina pada 2022.

Dari sisi domestik, pelemahan rupiah diperparah oleh kerentanan fondasi eksternal dan persepsi risiko investor. Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menjelaskan bahwa pasar saat ini tengah menimbang sejumlah indikator negatif, mulai dari menyempitnya surplus perdagangan, potensi defisit transaksi berjalan, hingga penurunan cadangan devisa yang tercatat sebesar US$ 148,2 miliar pada Maret 2026.

Tekanan tersebut semakin berat setelah lembaga pemeringkat internasional, Moody’s dan Fitch, merevisi prospek peringkat Indonesia menjadi negatif. Hal ini memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap kejelasan dampak program sosial pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang agresif.

Di tengah kondisi ini, Bank Indonesia (BI) menghadapi tantangan berat untuk menyeimbangkan stabilitas eksternal dan pengendalian inflasi. Analis memprediksi BI kemungkinan besar akan menahan suku bunga acuan hingga akhir tahun demi mengantisipasi tekanan harga minyak yang berpotensi memicu inflasi berkelanjutan.

Terdapat enam faktor krusial yang akan menentukan arah pergerakan rupiah ke depan:
1. Stabilitas jalur energi di Selat Hormuz dan harga minyak dunia.
2. Arah kebijakan suku bunga dan inflasi Amerika Serikat.
3. Fluktuasi dolar AS serta imbal hasil obligasi AS.
4. Arus modal asing ke pasar domestik (obligasi, saham, dan sekuritas BI).
5. Kinerja neraca pembayaran dan cadangan devisa.
6. Kredibilitas fiskal dan sentimen kebijakan domestik, termasuk hasil dari pembentukan Danantara.

Selain faktor geopolitik, risiko domestik lain datang dari potensi kemarau panjang akibat fenomena El Nino pada semester II-2026. Jika fenomena ini mengganggu produksi pangan dan energi, ruang stabilitas rupiah akan semakin sempit.

Terkait proyeksi nilai tukar hingga akhir tahun 2026, para analis memberikan estimasi yang bervariasi. Josua Pardede memprediksi rupiah berada di kisaran Rp 16.900 hingga Rp 17.000 per dolar AS. Sementara itu, Brahmantya Himawan dari PT Finex Bisnis Solusi Future memperkirakan rentang yang lebih lebar di angka Rp 17.100 hingga Rp 17.600 per dolar AS.

Di sisi lain, Budi Rustanto dari OCBC Sekuritas memperkirakan rupiah stabil di level Rp 16.830 per dolar AS, sedangkan Ezaridho Ibnutama dari NH Korindo Sekuritas mematok target akhir tahun di kisaran Rp 17.250 – Rp 17.350 per dolar AS akibat masih tingginya ketidakpastian geopolitik global.

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada perdagangan Kamis (16/4/2026), sejalan dengan sentimen positif dari bursa global. Berdasarkan data RTI pukul 09.07 WIB, IHSG naik 1,04% atau 79,284 poin ke level 7.702,870. Sebanyak 393 saham menguat, 135 saham melemah, dan 176 saham bergerak stagnan. Volume perdagangan tercatat mencapai 3,9 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 1,6 triliun. Baca Juga: Rupiah Dibuka…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Harga emas batangan bersertifikat Antam keluaran Logam Mulia PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) turun pada Kamis (16/4/2026). Mengutip situs Logam Mulia, harga pecahan satu gram emas Antam berada di Rp 2.888.000. Harga emas Antam itu turun Rp 5.000 jika dibandingkan dengan harga pada Rabu (15/4/2026) yang berada di level Rp 2.893.000 per gram. Sementara harga buyback emas Antam berada di level Rp 2.674.000 per gram. Harga…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. PT Pelat Timah Nusantara Tbk (NIKL) menganggarkan belanja modal alias capital expenditure (capex) sekitar US$ 2,1 juta pada tahun 2026. Dana ini difokuskan untuk mendukung peningkatan operasional pabrik sekaligus menjaga daya saing Latinusa di tengah kondisi pasar yang masih menantang. Dari total anggaran tersebut, alokasi capex akan digunakan untuk machinery & equipment sebesar US$ 1,8 juta dan supporting equipment…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Di tengah meningkatnya volatilitas pasar keuangan, sejumlah emiten dengan arus kas kuat semakin agresif melakukan aksi korporasi berupa pembelian kembali atau buyback saham. Langkah ini dinilai menjadi salah satu strategi untuk menjaga stabilitas harga saham sekaligus mencerminkan keyakinan manajemen terhadap fundamental perusahaan. Deretan Emiten Lakukan Buyback Saham Terbaru, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP)…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Jangan lewatkan dividen saham bernilai jumbo dari anak usaha Astra. Yield dividen saham ini mencapai 12% lebih. Anak usaha Astra yang akan bayar dividen jumbo ini adalah PT Astra Graphia Tbk (ASGR). Pembayaran dividen ini diputuskan melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2025. Adapun RUPST PT Astragraphia digelar di Catur Dharma Hall, Menara Astra, Jakarta, Rabu (15/4/2026). Besaran dividen saham ASGR sebanyak…