Tutup
EkonomiInvestasiPerbankanPolitik

Prabowo Luncurkan 13 Proyek Hilirisasi Bernilai Rp116 Triliun

117
×

Prabowo Luncurkan 13 Proyek Hilirisasi Bernilai Rp116 Triliun

Sebarkan artikel ini
13-proyek-hilirisasi-prabowo:-pengolahan-emas-dan-tembaga-di-gresik
13 Proyek Hilirisasi Prabowo: Pengolahan Emas dan Tembaga di Gresik

cilacap – Presiden Prabowo Subianto melakukan groundbreaking 13 proyek hilirisasi nasional dengan total investasi mencapai Rp116 triliun. Prabowo menilai proyek itu penting karena menjadi salah satu jalan menuju kebangkitan Indonesia sekaligus upaya pemerintah memperkuat fondasi ekonomi nasional.

“Groundbreaking hilirisasi tahap kedua yang mencakup 13 proyek strategis hilirisasi, senilai kurang lebih Rp116 triliun meliputi 5 proyek di sektor energi, 5 proyek di sektor mineral, 3 proyek di sektor pertanian,” kata Prabowo di Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (29/4).

Salah satu proyek yang dibangun adalah hilirisasi tembaga dan emas yang dikembangkan oleh MIND ID di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik, tepatnya di kawasan Java Integrated Industrial adn Port Estate (JIIPE), Jawa Timur.

Hilirisasi tembaga dan emas di Gresik mencerminkan terbentuknya rantai industri yang semakin terhubung dari hulu hingga hilir. MIND ID akan mengembangkan fasilitas brass mill, brass cup, serta manufaktur logam mulia berbasis anode slime.

Dalam skemanya, katoda tembaga dari smelter akan diolah menjadi brass cup dan brass mill berkapasitas 10 ribu ton per tahun untuk memenuhi kebutuhan amunisi nasional.Sementara itu, untuk pengolahan emas, PT Aneka Tambang Tbk (Antam) akan memproses hasil pemurnian logam menjadi emas batangan atau bullion guna memperkuat rantai pasok logam mulia domestik.

Wakil Gubernur jawa Timur Emil elestianto Dardak menegaskan pengembangan industri derivatif di Gresik merupakan langkah nyata dalam mewujudkan kedaulatan ekonomi daerah. Inisiatif ini diyakini mampu menjadi motor penggerak baru bagi struktur ekonomi Jawa Timur agar semakin kokoh dan berdaya saing.”Definisi maju tentu adalah kemampuan kita mengembangkan industri strategis yang membuat bangsa ini menjadi berdikari. Prasyarat untuk mewujudkan hal tersebut adalah adanya ekosistem yang mumpuni. Itulah sebabnya Jawa Timur ingin menjadi bagian penting dari rantai nilai (value chain) industri nasional,” ujar Emil saat ikut meresmikan proyek tersebut.

emil menjelaskan hilirisasi di KEK Gresik kini telah melompat ke tahap produk turunan tingkat dua dan tiga. Ia mencontohkan katoda tembaga yang kini diolah lebih lanjut menjadi copper rod, copper foil, hingga brass cup yang menjadi bahan baku peluru.

“Kita sudah bergeser ke arah industri derivatif. Katoda tembaga yang dihasilkan smelter kini diolah menjadi brass cup oleh Pindad untuk kebutuhan amunisi. Jadi, peluru yang biasanya diimpor untuk kebutuhan TNI, ke depan akan diproduksi di dalam negeri menggunakan bahan baku lokal,” tuturnya.Kehadiran fasilitas brass mill ini diproyeksikan mampu menekan angka impor komponen amunisi TNI secara signifikan sekaligus memperkuat kemandirian pertahanan melalui integrasi produksi di kawasan yang sama.

Secara sosial-ekonomi, proyek terintegrasi ini diperkirakan menyerap hingga 7.000 tenaga kerja terampil. Keberhasilan tersebut tak lepas dari sinergi lintas BUMN yang melibatkan PT Freeport Indonesia sebagai penyedia bahan baku, PT Pindad, PT Antam, hingga PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) melalui PT Berkah Kawasan Manyar Sejahtera (BKMS) sebagai mitra infrastruktur pelabuhan.

Untuk mendukung transformasi KEK Gresik sebagai hub hilirisasi berdaya saing global, Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus berkomitmen memperkuat efisiensi logistik melalui perbaikan infrastruktur di sekitar kawasan, termasuk pelebaran akses jalan tol dan pembenahan jembatan guna memastikan kelancaran operasional KEK Gresik sebagai tulang punggung industri nasional.

“KEK Gresik bukan lagi single commodity, melainkan multi-commodity hub. Dengan dukungan infrastruktur dari Pelindo dan ekosistem industri yang sudah ‘nyambung’, kawasan ini akan menjadi motor pertumbuhan ekonomi yang menyerap ribuan tenaga kerja terampil,” tambah Emil.

Dari sisi makroekonomi, posisi KEK Gresik di jantung aglomerasi Gerbangkertosusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan) memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian nasional. Emil memaparkan wilayah ini menyumbang hampir separuh dari PDRB Jawa Timur.”Produk domestik Regional Bruto (PDRB) di kawasan Gerbangkertosusila mencapai hampir separuh dari perekonomian Jawa Timur. Mengingat Jawa Timur menyumbang seperenam ekonomi nasional, maka perputaran ekonomi di aglomerasi ini saja mencakup hampir 10 persen dari total ekonomi Indonesia. Ini adalah keunggulan kompetitif yang harus kita jaga,” tegasnya.