Tutup
Regulasi

Sejumlah Emiten Bank Berupaya Penuhi Ketentuan Free Float Saham 15%

103
×

Sejumlah Emiten Bank Berupaya Penuhi Ketentuan Free Float Saham 15%

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Regulator pasar modal Indonesia telah menetapkan kewajiban bagi emiten untuk memenuhi batas minimum saham beredar bebas (*free float*) sebesar 15%. Menjelang tenggat waktu yang ditentukan, sebanyak 24 emiten perbankan tercatat masih berjuang untuk memenuhi ketentuan tersebut.

Bursa Efek Indonesia (BEI) memberikan batas waktu bagi emiten dengan kapitalisasi di atas Rp5 miliar untuk merealisasikan aturan ini paling lambat 31 Maret 2028. Sementara itu, perusahaan dengan kapitalisasi di bawah Rp5 miliar mendapatkan keringanan hingga 31 Maret 2029.

Senior Analis Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menjelaskan bahwa banyak perusahaan cenderung menunda penambahan *free float* karena ingin mempertahankan hak suara dalam pengambilan keputusan strategis. Selain itu, emiten menanti momentum valuasi yang tepat agar sahamnya tidak dihargai terlalu rendah (*undervalued*) saat dilepas ke publik.

“Emiten cenderung menahan hingga batas akhir ketentuan pada 2028-2029 demi mencari momentum saat valuasi optimal,” ujar Nafan.

Menurut Nafan, proses peningkatan *free float* memerlukan waktu panjang dan biaya yang tidak sedikit. Selain itu, perusahaan yang lebih menyukai stabilitas harga saham sering kali merasa enggan meningkatkan likuiditas melalui penambahan porsi saham publik.

Sejumlah bank besar kini mulai memersiapkan langkah pemenuhan aturan tersebut. Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA), Lani Darmawan, menegaskan komitmen perusahaannya untuk mematuhi aturan meskipun saat ini porsi *free float* masih berada di angka 7,50%.

Langkah serupa juga diupayakan oleh PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) yang memiliki porsi *free float* sebesar 9,33%. Direktur Manajemen Risiko BSI, Grandhis Helmi Harumansyah, menyatakan bahwa perseroan terus berkoordinasi dengan Danantara sebagai pemegang saham pengendali sekaligus fokus menjaga kinerja positif agar menarik minat investor.

Di sisi lain, beberapa emiten memilih untuk tidak terburu-buru. PT Bank Oke Indonesia Tbk (DNAR), dengan porsi *free float* 7,53%, menyatakan bahwa kebijakan penambahan saham akan sangat bergantung pada kondisi pasar serta kebutuhan bisnis perusahaan ke depannya.

Hingga saat ini, daftar emiten perbankan yang masih memiliki *free float* di bawah 15% meliputi:

* PT Bank Raya Indonesia Tbk (12,95%)
* PT Krom Bank Indonesia Tbk (5,67%)
* PT Bank JTrust Tbk (8,74%)
* PT Bank Danamon Indonesia Tbk (7,54%)
* PT Bank QNB Indonesia Tbk (7,50%)
* PT Bank CIMB Niaga Tbk (7,50%)
* PT Bank Maybank Indonesia Tbk (11,18%)
* PT Bank Permata Tbk (9,97%)
* PT Bank Syariah Indonesia Tbk (9,33%)
* PT Bank of India Indonesia Tbk (7,68%)
* PT Bank SMBC Indonesia Tbk (7,87%)
* PT Bank Oke Indonesia Tbk (7,53%)
* PT Bank Multiarta Sentosa Tbk (9,01%)
* PT Bank OCBC NISP Tbk (13,97%)
* PT Bank Nationalnobu Tbk (7,51%)
* PT Bank Pan Indonesia Tbk (10,62%)
* PT Bank Panin Dubai Syariah Tbk (7,68%)
* PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk (8,29%)
* PT Bank IBK Indonesia Tbk (7,55%)
* PT Bank Amar Indonesia Tbk (7,67%)
* PT Bank MNC Internasional Tbk (12,70%)
* PT Bank Mestika Dharma Tbk (8,98%)
* PT Bank Maspion Indonesia Tbk (10,52%)
* PT Bank Bumi Arta Tbk (8,21%)

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Pasar saham Indonesia masih lesu menjelang pertengahan tahun 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) koreksi dalam dan tren initial public offering (IPO) sepi tahun ini. Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), per 22 Mei 2026 baru ada satu emiten yang IPO sepanjang tahun ini, yaitu PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) dengan dana dihimpun Rp 0,30 triliun. Hingga saat ini, terdapat 15 perusahaan dalam pipeline…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Perusahaan securities crowdfunding atau urun dana PT Dana Aguna Nusantara (Danamart) menilai kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) atau BI Rate menjadi 5,25% dapat mempengaruhi preferensi sebagian investor (pemodal), khususnya terhadap instrumen dengan profil risiko relatif lebih rendah seperti produk perbankan. Meski demikian, Head of Marketing Communication Danamart Cindera Hegawan optimistis minat investor…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Rupiah spot ditutup pada level Rp 16.805 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Senin (1/6/2026), rebound 0,43% dari akhir pekan lalu yang ada di Rp 17.881 per dolar AS. Di Asia, rupiah menguat bersama rupee India dan yuan China. Rupiah menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia yakn i 0,43%, disusul rupee yang menguat 0,01% dan yuan China yang menguat 0,01% terhadap dolar AS. Sedangkan mayoritas…