JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat pada penutupan perdagangan Rabu (3/6), anjlok 254,36 poin atau 4,10 persen ke level 5.941,066. Kondisi serupa terjadi pada indeks LQ45 yang terkoreksi 4,89 persen ke posisi 588,991.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengungkapkan bahwa pelemahan tajam IHSG dipicu oleh sentimen negatif dan berbagai rumor yang berkembang di pasar. Salah satu rumor yang beredar adalah kabar mengenai potensi penurunan peringkat (downgrade) dari lembaga pemeringkat S&P, padahal pemerintah baru dijadwalkan untuk bertemu dengan pihak S&P.
Kendati pasar saham tertekan, Purbaya optimistis pelemahan tersebut hanya bersifat sementara. Ia menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia saat ini masih dalam kondisi yang baik, tercermin dari realisasi pendapatan pajak bulan Mei yang tetap kuat.
Di sisi lain, nilai tukar rupiah juga kembali tertekan hingga mendekati level Rp18.000 per dolar AS. Berdasarkan data Bloomberg per pukul 19.17 WIB, rupiah melemah 127,50 poin atau 0,71 persen ke level Rp17.966 per dolar AS.
Terkait pelemahan mata uang Garuda, Purbaya menyatakan bahwa kewenangan utama untuk menjaga stabilitas nilai tukar berada di tangan Bank Indonesia (BI). Pemerintah menghormati peran bank sentral dalam menangani volatilitas pasar tersebut.
“Itu adalah jurisdiksi Bank Sentral. Kami akan membiarkan mereka bekerja sesuai mekanisme yang ada, namun kami tetap melakukan rapat koordinasi berkala,” ujar Purbaya di Gedung DPR, Senayan.
Purbaya menegaskan bahwa koordinasi antara pemerintah dan otoritas moneter berjalan secara rutin melalui rapat tingkat deputi setiap bulan. Pemerintah pun siap meningkatkan koordinasi jika sewaktu-waktu diperlukan langkah ekstra untuk menjaga stabilitas rupiah.
Lebih lanjut, Purbaya menepis isu yang menyebutkan bahwa ia meminta perbankan melakukan *stress test* terkait pelemahan rupiah di atas Rp18.000. Ia menekankan bahwa rumor-rumor tak berdasar seperti inilah yang justru memperburuk sentimen negatif di pasar.
“Kami tidak pernah mengeluarkan instruksi tersebut. Fokus pemerintah saat ini adalah memastikan fundamental ekonomi nasional tetap terjaga dengan kuat,” pungkasnya.







