JAKARTA – Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp18.000 per dolar AS serta kenaikan suku bunga acuan BI Rate ke posisi 5,25 persen mulai memicu kekhawatiran di kalangan pelaku industri, tak terkecuali sektor asuransi.
President Director Asuransi Astra, Maximiliaan Agatisianus, mengakui bahwa kondisi makroekonomi saat ini berdampak langsung pada operasional perusahaan. Ia menyoroti potensi kenaikan suku bunga yang dapat memicu inflasi sekaligus menekan daya beli masyarakat.
“Semua sektor pasti terkena dampaknya. Kenaikan suku bunga akan memengaruhi inflasi dan penurunan daya beli masyarakat,” ujar Maximiliaan di Jakarta, Kamis (6/4).
Maximiliaan menjelaskan bahwa industri asuransi kendaraan bermotor, yang menjadi salah satu lini bisnis utama Asuransi Astra, kini menghadapi tantangan serius. Melemahnya daya beli masyarakat diprediksi akan berdampak pada penurunan pembelian kendaraan melalui skema kredit.
Selain itu, pelemahan rupiah juga dirasakan oleh klien korporasi yang memiliki beban operasional berbasis valuta asing. Hal ini dinilai memperumit kondisi pasar bagi para pelaku bisnis di tanah air.
Meski demikian, Maximiliaan menegaskan bahwa Asuransi Astra tetap optimistis dapat menjaga pertumbuhan bisnis. Strategi diversifikasi portofolio menjadi kunci utama agar perusahaan tetap relevan dan tangguh di tengah tekanan industri otomotif.
“Kami tetap memproyeksikan pertumbuhan karena perusahaan terus melakukan diversifikasi. Langkah ini diambil agar Asuransi Astra tetap resilien dan mampu beradaptasi dalam kondisi ekonomi yang sulit sekalipun,” tutupnya.







