JAKARTA – Pasar keuangan domestik tengah berada di bawah tekanan berat seiring dengan merosotnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 35,3% sejak awal tahun 2026 ke level 5.594,76. Kondisi ini diperparah dengan pelemahan nilai tukar rupiah yang kini menembus kisaran Rp18.000 per dolar AS.
Menghadapi volatilitas pasar yang tinggi, pakar investasi menyarankan para investor untuk segera meninjau kembali komposisi portofolio mereka. Langkah taktis melalui *Tactical Asset Allocation* (TAA) dinilai menjadi strategi paling ideal untuk mengendalikan risiko sekaligus memanfaatkan peluang di tengah valuasi aset yang mulai murah (*undervalued*).
Chief Investment Officer KIM Indonesia, Barkah Supriadi, menjelaskan bahwa investor perlu bersikap adaptif. Sebagai contoh, investor agresif yang memiliki porsi saham besar disarankan mengalihkan aset ke instrumen defensif seperti Reksa Dana Pendapatan Tetap (RDPT) dan Reksa Dana Pasar Uang (RDPU).
Strategi ini tidak hanya meminimalisir penurunan nilai portofolio saat pasar terkoreksi, tetapi juga memastikan investor memiliki dana likuid yang siap digunakan untuk melakukan *average down* saat pasar menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Saat ini, RDPU dengan target imbal hasil 4,5%–5% per tahun dan RDPT sebesar 6%–7% per tahun menjadi pilihan yang realistis dengan risiko fluktuasi yang lebih rendah.
Tekanan pada pasar domestik ini dipicu oleh sentimen global, yakni meningkatnya ketegangan geopolitik dan kenaikan inflasi di Amerika Serikat. Tren ini mendorong Bank Sentral AS untuk mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama, yang memicu kenaikan *yield* obligasi AS serta aliran modal keluar (*capital flight*) dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
Sementara itu, Direktur Panin Asset Management, Rudiyanto, memberikan saran tambahan agar investor melakukan diversifikasi aset dalam denominasi dolar AS. Instrumen seperti uang tunai, reksa dana berbasis dolar AS, maupun obligasi mata uang asing dapat menjadi pilihan tergantung pada profil risiko masing-masing individu.
Di sisi lain, respons pemerintah terhadap kondisi ekonomi saat ini menjadi faktor krusial yang akan memengaruhi sentimen pasar ke depan. Rudiyanto menekankan pentingnya pengelolaan fiskal yang disiplin serta komunikasi publik yang tepat dari pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah situasi yang menantang ini.







